Islamofobia di Austria: Muslimah Berhijab Paling Sering Jadi Target Serangan
Wina, REQNews.com -- Muslimah berhijab di Austria paling sering menghadapi kebencian dan diskriminasi dibanding pria Muslim, demikian seorang aktivis anti-Islamofobia mengatakan.
"Mayoritas korban kebencian dan diskriminasi adalah wanita," kata Munira Mohamud, aktivis Dokustelle -- organisasi non-peerintah di Austria -- kepada Anadoly Agency. "Penyebabnya adalah hijab. Lebih tepatnya visibilitas hijab."
Dokustella mendokumentasikan lebih seribu insiden Islamofobia sepanjang tahun lalu. Dari jumlah insiden itu, 69,2 persen korban adalah muslimah berhijab. Sisanya laki-laki.
Mohamud mengenakan hijab dan menghadapi Islamofobia di Wina tahun lalu. "Seorang pria mendatangi saya dan menyuruh saya melepas hijab," kata Mohamud.
Pria itu, masih menurut Mohamud, mengatakan; "Apa itu di kepalamu? Lepaskan." Setelah itu pria itu mengumpah dalam Bahasa Jerman.
Di angkutan umum, Mohamud tidak menghadapi serangan lansung tapi sering merasakan tatapan tak sedap penumpang lain. "Orang terus-menerus melihat ke arah muslimah berhijab, seperti ada yang salah pada diri kita. Atau orang seolah mengatakan kita melakukan sesuatu yang salah," katanya.
Saling Mempengaruhi
Menurut Kantor Statistik Federal Austria, saat ini terdapat 645.600 Muslim di Austria, atau kurang 10 persen dari penduduk negeri itu yang mencapai 8,9 juta pada tahun 2021.
Menurut Mohamud, sentimen anti-Muslim meningkat di sekujur Eropa karena terjadi saling mempengaruhi. "Ini bukan hanya masalah Austria, tapi seluruh Eropa," katanya.
Politisi di Austria mengatakan sedang mempertimbangkan untuk menggunakan pendekatan Prancis terhadap Muslim. Prancis seolah menginspirasi negara lain untuk menangani masalah komunitas minoritas di negara-negara Eropa.
Di Austria, pemain terbesar Islamofobia adalah pemerintah. Alih-alih menangani isu lokal seperti korupsi, Austria mengalihkan perhatian dengan membicarakan isu-isu Muslim.
"Narasi ini tidak hanya ada di Austria tapi juga di semua negara Eropa," kata Mohamud.
Mengutuk Islamofobia
Seorang pejabat mengatakan salah satu alasan peningkatan Islamofobia adalah tidak ada kecaman dari pemerintah saat terjadi serangan terhadap Muslim. "Paling-paling hanya masyarakat hak-hak sipil yang mengutuk serangan," katanya.
Lebih mengenaskan lagi, tidak ada konsekuensi hukum bagi mereka yang terlibat kejahatan rasial. Akibatnya, orang seperti boleh melakukan Islamofobia dan kejahatan rasial lainnya.
Solusi atas semua ini adalah pemerintah Australia mengakui Islamofobia dan memperkenalkan undang-undang yang melindungi masyarakat.
"Itu langkah pertama yang harus dilakukan untuk memerangi Islamofobia, rasisme, dan anti-Muslim di Austria," kata pejabat itu. "Selama ini banyak orang tidak mengakui Islamofobia, pemerintah juga tidak mengakui."
Ia melanjutkan; "Kami bisa mendorong pemerintah untuk membuat undang-undang yang melindungi komunitas Muslim di Austria."
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.