Irwan Dahlan dan Keluarga, Derita Korban Blokir BPJS
Andai saja kartu BPJS Irwan Dahlan tidak diblokir, mungkin saja hingga detik ini Irwan masih bercengkerama, tersenyum dan tertawa. Pemblokiran kartu yang dilakukan sejak April 2017 menyebabkan Irwan meninggal dunia.
----------------------------------
Sekira tahun 2014, Irwan Dahlan divonis mengidap penyakit paru-paru. Namun meski sakit, Irwan tetap dapat bekerja seperti biasa di PT Freeport Indonesia (PTFI) sebagai operator trem. Di perusahaan tambang raksasa itu, Irwan telah bekerja sekitar 22 tahun.
Istri Irwan, Siti Khalimah, mengaku, suaminya dapat bertahan terhadap sakitnya lantaran mendapat pengobatan rutin dari klinik kesehatan Tembagapura, Timika.

Alm Irwan Dahlan dan istri Siti Khalimah (foto: dok kel)
“Setelah divonis sakit paru-paru, suami saya rutin mendapat obat dari dari klinik perusahaan di Tembagapura dan alhamdulilah dia bisa bertahan dan bekerja seperti biasa. Selama itu, biaya pengobatan bahkan perawatan di-cover BPJS. Tetapi begitu kartu BPJS diblokir sejak Mei 2017, suami sudah tidak bisa berobat lagi dan karena itu kondisinya makin menurun,” kisah Siti dengan mata berkaca-kaca di PN Jakarta Pusat belum lama berselang.
Syahdan, pada April 2017, Irwan masuk dalam barisan pekerja mogok kerja (moker) PTFI. Mereka moker lantaran menuntut sejumlah perubahan kebijakan perusahaan yang dianggap mengancam eksistensi para pekerja di perusahaan.
Tak terima dengan reaksi moker, beberapa waktu kemudian, manajemen PTFI melakukan PHK terhadap seluruh karyawan moker termasuk Irwan. Para pekerja melawan. Mereka menganggap PHK yang dilakukan tidak sesuai prosedur.
Namun, apalah daya para karyawan moker. Boleh saja mereka berlindung di balik hak dan aturan yang berlaku dan meyakini mogok yang dilakukan sah secara hukum, toh PTFI "yang punya kuasa” tidak pedulikan tuntutan karyawan moker. Selain melakukan PHK, manajemen PTFI juga memblokir kartu keanggotaan BPJS seluruh karyawan moker.
Tak ada kerjaan dan tak ada gaji, nasib para pekerja menjadi tidak menentu. Meski demikian, para pekerja terus berjuang melawan manajemen PTFI. Di tengah situasi “krisis”, kondisi kesehatan Irwan ikut “krisis.” Irwan menjadi tidak berdaya pada waktu kartu BPJS-nya diblokir.
Irwan akhirnya ke Blitar, kota di mana keluarganya tinggal. Di Blitar, Irwan langsung dirawat di RSUD Ngadi Waluyo, persisnya pada 7 November 2017. Iseng, Siti mencoba lagi kartu BPJS Irwan di hadapan para petugas RSUD. Ternyata sama saja, masih diblokir.

Alm Irwan Dahlan di rumah sakit
“BPJS tidak aktif. Pusing toh mas. Suami ikut mogok kerja, tidak ada gaji sejak Mei 2017. Tidak ada THR. Uang tabungan sudah habis untuk hari-hari dan untuk biaya anak sekolah dan anak kuliah. Saya sempat jual beberapa barang,” keluh Siti.
Pinjam Uang
Mau tak mau Siti meminjam uang kerabatnya sebesar Rp 15 juta untuk biaya rumah sakit. Sementara itu, biaya rumah sakit makin membengkak. Sudah begitu, bukan makin sehat, kondisi Irwan kian melemah. Pada hari ke-10 atau pada 16 November 2017, Irwan menghembuskan nafas terakhirnya. Kesedihan tiada tara menimpa Siti dan putra-putrinya. Tulang punggung keluarga itu pergi selamanya dalam usia 53 tahun.
“Seandainya suami saya masih di-cover BPJS, mungkin hidup suami saya masih lama. Tetapi nggak tau-lah, mungkin ini memang takdirnya. Ini semua kuasa Allah SWT. Kami sudah mengiklaskannya. Toh suami pergi dengan tenang. Ia pernah bilang, dirinya ada di jalur yang benar, ikut memperjuangkan keadilan,” ungkap Siti.
Irwan lahir Makassar, 8 Juli 1964 lalu merantau ke Kalimantan dan bekerja di Trakindo. Ia menikah dengan Siti pada 28 April 1996 di Muara Badak, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Beberapa tahun kemudian Irwan bekerja di PTFI.
“Setelah suami pindah kerja di Freeport, saya ke Blitar karena kami memang asli Blitar, kalau suami kan asal Makassar. Selama bekerja di Freeport, tiga kali dalam setahun suami pulang ke Blitar. Ditinggal suami bekerja jauh di Papua mulanya berat tetapi lama-lama sudah biasa, apalagi sudah ada anak-anak.”

Keluarga Irwan Dahlan
Irwan-Siti dikarunia tiga anak, Erwin Dahlan (22) dan kini kuliah di sebuah perguruan tinggi di Makassar, jurusan teknik mesin. Anak kedua, Irsan Dahlan (Kelas II SMP di Blitar) dan anak ketiga Erni Ramadhani Dahlan (kelas II SD di Blitar).
Ditinggal suami untuk selamanya pada saat anak-anak masih kuliah dan sekolah, tentu membuat Siti kian menderita. “Hidup harus terus berjalan!” cetusnya singkat.
Jika dahulu hanya ibu rumah tangga biasa dan lebih banyak mengurus anak-anak, maka kini ia harus banting tulang sebagai orang tua tunggal. Ia kini menjadi petani yang bekerja di sawah selain mengelola warung sembako.
Lahan persawahan ‘kecil-kecilan’ di Blitar baru saja dibelinya. Demikian pula usaha warung sembako. Sawah dan warung sembako itu ada dari ‘uang duka’ atau yang disebut Siti sebagai ‘uang toleransi’ yang diberikan PTFI selain dari asuransi kesehatan Prudensial dan asuransi tenaga kerja. "Ini semua demi anak-anak!" ungkap Siti dengan lirih dan penuh harap. (Bos)
Redaktur :
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
