Pendeta di Jerman Bilang Tuhan Itu Queer, Ribuan Orang Tepuk Tangan dan Lainnya Mengecam
Nuernberg, REQNews.com -- Pendeta Quinton Caesar, Minggu 11 Juni, mengatakan Tuhang Kristen itu queer, dan kehidupan orang kulit hitam selalu berarti sehingga imigran harus disambut di Eropa.
Queer, menurut kamus Miriam Webster, adalah orang atau kelompok yang memiliki ketertarikan seksual atau hubungan romantis tidak terbatas pada orang dengan identitas jender atau orientasi seksual tertentu
Thamsin Spargo, dalam Foucault and Queer Theory (1999), mengatakan queer adalah identitas untuk siapa saja yang terpinggirkan karena orientas atau praktik seksualnya.
Caesar mengatakan hal itu di depan peserta Kongres Gereja Injili di Nuernberg. Pidatonya disambut tepuk tangan meriah peserta, tapi orang Kristen yang menyaksikan acara itu secara online kebingungan.
Michael Sebastian, penulis Kristen AS, menggambarkan pidato Caesar sebagai deskripsi ringkat dari semua poin kunci agama rejim. Penulis konservatif Auron MacIntyre menuduh kaum progresif seperti Caesar melubangi agama dan memakai kulitnya seperti piala. Komentator lain menggambarkan khotbah Caesar menjijikan, sesat, dan Satanik.
Pidato Caesar menutup kongres lima hari yang menyaksikan 100 ribu pemeluk Protestan turun ke Nuernberg untuk berkhotbah, debat, dan pertunjukan musik. Meski tidak diselenggarakan Gereja Evangelical Jerman -- organisasi payung yang diikuti mayoritas Protestan Jerman -- acara itu itu diadakan setiap tahun sejak 1949 dan merupakan andalan dalam kalender keagamaan di Jerman.
Caesar berasal dari Afrika Selatan. Ia menggambarkan dirinya sebagai pendeta aktivis. Pandangannya tidak unik di kalangan Protestan. Pidatonya muncul sepekan setelah gereja Anglikan di London mengadakan pertunjukan drag queen untuk komunitas LGBTQAI+ lokal dan kelompok terpinggirkan lainnya.
Tahun 2019 sebuah gereja Protestan di Swedia dikecam keras karena mengganti altar yang menggambarkan Adam dan Hawa degnan pasangan homoseksual dalam pose sugestif.
Sejak 2016 Gereja Injili di Jerman mengizinkan pendetanya meresmikan pernikahan gay. Tahun 2021 salah satu uskupnya menjadi berita utama ketika meminta komunitas LGBTQ memaafkan selama parade Pride di Berlin.
Meski menganut pandangan liberat, Gereja Injili Jerman kehilangan anggota dengan cepat. Tahun 2022, gereja kehilangan 380 ribu anggota, dan tercatat sebagai rekor kehilangan tertinggi.
Tahun 2021, Gerja Injili kehilangan 340 ribu orang. Gereja Katolik tidak bernasib lebih baik, karena kehilangan 359 ribu orang pada tahun 2021.
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
