Swedia Tuduh Rusia Sebarkan Klaim Palsu Insiden Pembakaran Alquran
Stockholm, REQNews.com -- PM Swedia Ulf Kristersson menuduh Rusia menggunakan kampanye disinformasi untuk menodai citra negaranya di luar negeri. Rusia, menurutnya, menyebarkan klaim palsu tentang insiden pembakaran Alquran.
"Kita bisa melihat bagaimana Rusia aktif menyebarkan klaim palsu bahwa Swedia adalah negara di balik penodaan berbagai kitab suci," kata Kristersoon dalam cuitannya di media sosial. "Tentu saja klaim itu sepenuhnya salah. Pembakaran Alquran terjadi di tengah situasi keamanan yang rumit."
Menurut Kristersson, pemerintah Swedia tidak mengeluarkan izin membakar salinan Alquran di depan umum. "Polisi hanya mengeluarkan izin pertemuan publik, hak yang dibadikan dalam konstitusi Swedia," kata Kritersson.
Ia juga mengatakan hak itu dijalankan tergantung pada apa yang diputuskan individu untuk dirinya sendiri.
Polisi Stockholm mengizinkan dua protes di luar Kedubes Irak di Swedia dalam beberapa pekan terakhir, dan tidak mencegah pembakaran Alquran. Aksi itu memicu reaksi internasional, dan Baghdad mengusir Dubes Swedia serta menarik kembali utusannya.
Warga Irak yang marah menyerbu Kedubes Swedia di Baghdad, menerobos masuk, dan membakarnya. Beberapa negara Muslim; Turkiye, Mesir, Aljazair, Maroko, Uni Emirat Arab dan Yordania, mengutuk Swedia.
Presiden Vladimir Putin memanfaatkan situasi dengan berkunjung ke komunitas Muslim di Dagestan. Ia diberi Alquran. Putin menerima dan memeluknya. Gambar Putin memeluk Alquran viral di media sosial, dan muncul di jalan-jalan Lebanon.
Awal 2023 diplomat papan tas Finlandia Pekka Haavisto menuduh Rusia berada di balik aksi pembakaran Alquran yang dilakukan Rasmus Paludan, aktivis anti-Islam asal Denmark. Rusia melakukan perang hybrid untuk mencegah Swedia menjadi anggota NATO.
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
