Ofensif Darat Israel: Labirin Terowongan Hamas dan Tameng Manusia
Khan Younis, REQNews.com -- Rencananya, Israel menggelar serangan darat, Sabtu 14 Oktober, tapi terpaksa ditunda akibat cuaca yang tak memungkinkan pesawat mengudara untuk memberi dukungan pergerakan pasukan.
Pejabat PBB di Gaza mengatakan Israel mengubah rencananya, dan memberi tengat waktu 24 jam kepada warga sipil Palestina untuk menyelesaikan evakuasi. Pada saat sama, Israel melanjutkan pemboman untuk membersihkan wilayah Gaza. dari senjata.
Analis militer meragukan pernyataan Israel bahwa serangan darat yang direncanakan Sabtu 14 Oktober terpaksa ditunda. Invasi darat besar-besaran ke Gaza adalah sesuatu yang kompleks. Israel tidak hanya berjalan di atas puing-puing, tapi dipastikan akan menghadapi serangan dari bunker dan terowongan bawah tanah.
Israel kali terakhir menginvasi Gaza lewat darat tahun 2006, dan harus mundur setelah dipasa bertempur jarak dekat. Saat itu, Hamas belum punya terowongan. Prajurit militan Palestina saat itu bergera dari bawah puing-puing bangunan.
Setelah pertempuran itu, dan pemboman tahun 2008 dan tahun-tahun berikut, Hamas mulai membangun terowongan. Dari terowongan tak berujung, dan dibuat sedemikian rumit, Hamas menjalankan semua rencana perang dan membuat senjata.
Terowongan labirin Hamas menimbulkan tantangan besar bagi Israel. Para ahli memperingatkan Israel akan kehilangan keunggulan daya tebak dan terpaksa menghadapi musuh dalam pertempuran jarak dekat jika serangan dilancarkan.
Hamas bertahun-tahun melatih diri untuk menghadapi serangan darat Israel. Mereka telah menyusun berbagai skenario dan jebakan-jebakan yang akan membuat keunggulan persenjataan Israel menjadi tidak berguna.
Gaza adalah wilayah berpenduduk padat. Kecuali prajurit Hamas, tidak ada yang tahu labirin terowongan Hamas yang rumitdan menakutkan.
Seorang juru bicara militer Israel memperkirakan Hamas akan menyerang dari terowongan. Jika itu terjadi, invasi ke Gaza akan menjadi pertempuran melelahkan. Analis militer Israel juga khawatir Hamas menggunakan sandera sebagai temeng manusia, yang membuat pasukan Yahudi terjebak dilema moral dan operasional.
Perang Terpisah
Israel juga menghadapi kemungkinan perang terpisahdi perbatasan Lebanon, setelah baku tembak artileri dengan Hizbullah -- kelompok bersenjata yang didukung Iran.
Naim Qassem, orang kedua hirarki kepemimpinan Hizbullah, mengatakan pihaknya siap bergabung dengan Hamas dalam perang melawan Israel.
"Kami, sebagai sekutu Hizbullah, berkontribusi terhadap konfrontasi dan akan terus berkontribusi sesuai visi dan rencana kami," kata Qassem dalam rapat umum pro-Palestina di Beirut seperti dikutip AFP.
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
