Israel Pinjam 6 Miliar Dollar AS ke Lembaga Internasional untuk Biayai Pembantaian Palestina
New York, REQNews.com -- Israel dikabarkan meminjam enam miliar dolar AS, atau Rp 92 triliun, melalui investor utang internasional untuk membiayai perang genosida di Jalur Gaza.
Dari jumlah itu, sebanyak 5,1 miliar dalam bentuk penerbitan obligasi baru dan enam obligasi berdenominasi dalam dolar-euro. Sisanya, lebih satu miliar dolar, berupa penggalangan dana melalui perusahaan AS.
Mengutip sejumlah investor, Bloomberg News memberitakan obligasi diterbitkan dalam apa yang disebut pinjaman swasta, yaitu sekuritas yang tidak diberikan kepada pasar umum melainkan kepada investor terpilih.
Pilihan menempatkan swasta dapat berupa peningkatan dana perang dengan cepat, atau tanpa menarik perhatian yang tidak diinginkan.
Dalam obligasi dua dolar yang diterbitkan bulan lalu, Israel membayar kupon sebesar 6,25 persen dan 6,5 persen pada obligasi yang jatuh tempo dalam empat dan delapan tahun. Angka ini jauh lebih tinggi dari patokan imbal hasil Tresury AS yang berkisat 4,5 dolar dan 4,7 dolar seperti diatur Goldman Sachs dan Bank of America pada saat obligasi diterbitkan.
Beberapa investor utang bersikukuh memberi pinjaman kepada Israel setelah 7 Oktober, dan beberapa lainnya bersikap hati-hati mengingat bencana kemanusiaan yang disebabkan pemboman Israel di Gaza.
Galit Alstein menulis di Bloomberg News bahwa perang yang sedang berlangsung di Gaza menyebabkan kerugian besar bagi perekonomian Israel. Perkiraan kasarnya, Israel merugi 260 juta dolar AS, atau Rp 4 triliun, per hari.
Thys Low, manajer portofolio utang negara berkembang di fund manager Ninety One, mengatakan; "Kenyataannya adalah bagi banyak investor, Israel saat ini memberi terlalu banyak risiko bagi lingkungan sosial, dan tata kelola, terutama untuk beberapa negara berkembang. Israel tidak sesuai standar."
Seorang pakar strategi yang menolak disebut jati diri mengatakan pasar masih memperkirakan harga yang sangat tinggi pada utang internasional Israsel. Sebab, perang masih berlangsung.
Ia juga mengatakan pasar khawatir tentang bagaimana perang akan berdampak pada pertumbuhan Israel, dan tingkat utang publik, serta peringkat negara selanjutnya.
Obligasi Murah
Lembaga keuangan JP Morgan pekan ini mempekirakan Israel akan mengalami defisit anggaran sebesar 4,5 persen pada tahun depan, atau naik dari 2,9 persen tahun ini. Pada gilirannya, defisit itu akan menjadikan risiko utang terhadap produk domestik menjadi 63 persen pada akhir tahun, dibanding 57,4 persen sebelum perang.
Paul McNamara, manajer utama strategi utang negara berkembang di GAM, menggambarkan obligasi Israel terlihat sangat murah.
Dani Naveh, kepala eksekutif Israel Bonds, mengatakan kepada The Financial Times bahwa sebagian besar investasi Israel berasal dari AS dan Eropa. Investasi itu terbagi antara investor swasta dan institusi, yang sebagian besar diwakili pemerintah masing-masing.
Lebih 15 negara bagian AS berinvestasi dalam Obligasi Israel sejak 7 Oktober, termasuk Florida, New York, Texas, Alabama, Arizona, dan Ohio.
"Kami belum pernah mendapat dukungan sebesar ini," katanya. "Tidak hanya dari segi jumlah, tapi juga cakupan investasi."
Situasi ini memungkinkan Kementerian Keuangan Israel mengumpulkan miliaran dolar utang tambahan untuk memenuhi kebutuhan perang dan setelah perang.
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.