Mahasiswa UBT Gelar Deklarasi Damai, Rektor: Jika Terulang, Saya Serahkan ke Polisi!
TARAKAN, REQnews – Mahasiswa Universitas Borneo Tarakan menggelar deklarasi komitmen damai yang dilaksanakan di Ruang Auditorium Lantai 4 Universitas Borneo Tarakan pada Rabu 27 Desember 2023, pukul 08.30 WIB.
Deklarasi tersebut turut dihadiri oleh Rektor Universitas Borneo Prof Adri Patton, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Borneo Adi Sutrisno, Kapolres Tarakan AKBP Ronaldo Maradona Siregar, Dandim 0907 Tarakan Letkol Kav Jhon Budiman Simamarta.
Lalu, dihadiri juga oleh para irang tua atau wali mahasiswa yang terlibat perkelahian, pemilik kantin depan UBT hingga para mahasiswa UBT.
Prof Adri Patton mengakui bahwa memang sejak tahun 2017 sampai dengan sekarang perkelahian antar falkutas di UBT terus terjadi.
"Setiap terjadi perkelahian antar fakultas, saya selalu diminta untuk mengatasi permasalahan ini dan kami selalu berkoordinasi dengan Polres Tarakan dan ini sangat menyedihkan, dengan adanya Deklarasi Damai di UBT akan jadi pertanyaan besar ada apa dengan UBT," kata Adri pada Rabu 27 Desember 2023.
Ia pun berharap dengan adanya kegiatan deklarasi damai ini sebagai yang terakhir. Adri menyebut jika hal serupa kembali terjadi, maka permasalahan akan diserahkan ke Polres Tarakan.
Meski demikian, ia pun berterima kasih kepada Kapolres Tarakan AKBP Ronaldo yang telah melaksanakan restorative justice (RJ) agar mahasiswa tidak diberi hukuman.
"Oleh karena itu, jika ada mahasiswa yang melakukan perkelahian antar fakultas lagi, saya serahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian khususnya Polres Tarakan untuk ditindak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku dan saya berjanji tidak akan memfasilitasi jika ini terjadi (perkelahian) lagi di kampus UBT Tarakan biar hukum yang memprosesnya," katanya.
Kapolres Tarakan AKBP Ronaldo Maradona Siregar mengatakan bahwa dalam menghadapi permasalahan, tak bisa dilakukan dengan cara yang dianggap gampang seperti berkelahi, yang justru menambah masalah baru.
"Kami sudah sering menyampaikan terkait penyelesaian kasus, betul-betul dibahas sesuai dengan substansinya karena kami punya kepedulian dan konsen yang sama yang disampaikan oleh Bapak Rektor UBT karena selama ini kita sudah tahu kalau ada tradisi yang tidak benar, ada kebiasaan-kebiasaan yang salah, kita tidak bisa hanya berdiam diri," kata Ronaldo.
Ronaldo pun mengaku telah bertindak semampunya untuk semaksimal mungkin membuat perdamaian ini menjadi permanen dan membuat tradisi konflik itu hilang, khususnya konflik antar fakultas di UBT.
"Sampai saat ini masih ada enam orang yang menjadi DPO yang belum datang menyerahkan diri ke Polres Tarakan, kami melihat berbagai fakta yang kontradiktif, jadi kalau ingin menyelesaikan konflik, banyak cara pendekatannya karena kami mau penyelesaian konflik ini dapat membawa manfaat yang lebih besar baik untuk kalangan mahasiswa dan mssyarakat sekitar dan kami tetap mengapresiasi upaya-upaya yang telah dilakukan dan harapan kami, semoga ke depannya tidak terulang kembali," jelasnya.
Ia pun meminta kepada para mahasiswa khususnya Fakultas Hukum, harus bisa memahami bahwa saat ini mahasiswa bukanlah anak di bawah umur.
"Jadi bukan lagi anak yang berhadapan dengan hukum, artinya saat melakukan perbuatan pidana mereka harus bertanggung jawab terhadap perbuatannya," kata dia.
Sementara itu, ia menyebut bahwa terkait adanya sembilan orang mahasiswa yang telah dilakukan penahanan, telah selesai dengan restorative justice.
"Namun, substansi penyelesaian perdamaian yang sesungguhnya antar para pihak belum sepenuhnya terwujud, termasuk kejelasan dari keberadaan enam orang yang terlibat dalam perkelahian yang saat ini menjadi DPO," lanjutnya.
Ketua BEM UBT Diki mengatakan jika pihaknya berikhtiar dan berkomitmen agar kasus serupa tak terulang kembali. Ia pun ingin, permasalahan tersebut menjadi pelajaran untuk berubah menjadi lebih baik lagi demi kemajuan universitas.
"Dari sekian lama, forum nasional yang saya ikuti melihat kondisi mahasiswa di kampus lain mereka telah meninggalkan budaya kotor mereka, budaya-budaya yang menanam kebencian satu dengan yang lainnya dan hari ini di kampus Universitas Borneo Tarakan banyak terjadi konflik dan budaya yang masih sulit kita ubah secara langsung dan hari ini," kata Diki pada Rabu 27 Desember 2023.
Lebih lanjut, ia meminta agar deklarasi damai tersebut tak hanya sebagai ajang seremonial dan formalitas belaka, hanya untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang mahasiswa.
"Untuk bagaimana kita bisa melihat dan melangkah ke depan untuk memajukan Universitas Borneo Kota Tarakan. Kita harus berkonsentrasi meninggalkan kebencian satu dengan yang lainnya," kata dia.
Menurutnya, kegiatan tersebut bisa menjadi langkah kongkret untuk berbenah, bukan hanya pimpinan kampus melainkan semua mahasiswa UBT dalam hal akdemik.
"Ini salah satu upaya untuk mengharumkan nama UBT," ujarnya.
Adapun isi deklarasi Komitmen Damai Mahasiswa Universitas Borneo Tarakan pertama dalam rangka komitmen damai mahasiswa UBT tahun 2023.
Tertulis bahwa hari ini Jumat 27 Desember 2023 bertempat di Gedung Rektorat Lantai 4, di antaranya pertama, mahasiswa yang terlibat dalam konflik ini, dengan tekad napas hati berkomitmen dan sepakat untuk menghentikan segala bentuk kekerasan dan provokasi dapat mengganggu stabilitas keamanan dan ketertiban.
Poin kedua, menyadari bahwa perdamaian adalah kunci untuk menciptakan lingkungan Universitas Berneo Tarakan yang aman dan harmonis.
Oleh karena itu, dengan sanggup dan berkomitmen untuk menciptakan suasana yang damai, tertib, dan kondusif di lingkungan UBT.
Poin ketiga, dengan menandatangani deklarasi ini, kami berjanji untuk berkerja sama dalam semangat saling pengertian dan rasa hormat, menjauhkan diri dari konfrontasi.
Kegiatan Deklarasi Komitmen Damai Mahasiswa Universitas Borneo bertujuan agar setiap mahasiswa UBT selalu menjaga keamanan dan ketertiban di kampus UBT sehingga kejadian serupa (perkelahian) tidak terjadi lagi.
Redaktur : Hastina
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.