Wilayahnya Diambil Rusia, Ukraina Salahkan Negara Barat Tak Tepati Janji soal Senjata
JAKARTA, REQNews - Menteri Pertahanan Ukraina, Rustem Umerov, menyalahkan penundaan pengiriman senjata dari negara-negara Barat sehingga mereka kehilangan pasukan dan wilayah.
Menurutnya, senjata tersebut seharusnya datang tepat waktu agar tentara Ukraina dapat menggunakannya untuk melawan tentara Rusia.
“Saat ini, komitmen bukan merupakan penyampaian,” kata Rustem Umerov di sebuah forum di Kyiv, Ukraina, Minggu 25 Februari 2024.
“Lima puluh persen komitmen tidak dilaksanakan tepat waktu,” lanjutnya, menyinggung janji negara Barat yang tidak dilaksanakan tepat waktu.
Menurutnya, ketepatan pengiriman senjata ke Ukraina sangat penting untuk mempertahankan jumlah tentara dan wilayahnya.
“Pada dasarnya, apapun komitmen yang tidak dilakukan tepat waktu, kita akan kehilangan orang, kita akan kehilangan wilayah,” katanya, dikutip dari France24.
Ia kembali menyalahkan negara-negara Barat yang membuat Ukraina gagal menerapkan strategi militer yang telah mereka siapkan untuk menghadapi Rusia.
“Sekutu seharusnya mengirimkan bantuan tepat waktu selama perang ini,” kata Rustem Umerov.
“Kami punya rencana. Kami sedang berupaya untuk melaksanakan rencana tersebut. Kami melakukan segala hal yang mungkin – dan tidak mungkin dilakukan – namun kami kesulitan tanpa pasokan yang tepat waktu," lanjutnya.
Komentar itu ia sampaikan ketika perang Rusia dan Ukraina memasuki tahun ketiga.
Di sisi lain, Ukraina sedang kekurangan amunisi dan perjuangan untuk mendapatkan paket bantuan baru senilai 60 miliar dolar yang disetujui oleh anggota parlemen AS.
Baca juga: Ukraina Akhirnya Kerahkan Tank M1 Abrams Buatan AS, Bertempur di Medan Laga Usai Kota Avdiivka Jatuh
Hanya beberapa pekan lalu, Avdiivka jatuh ke tangan Rusia setelah Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina, Oleksandr Syrsky, menarik pasukannya untuk mengatur strategi baru.
Sebagai seorang Muslim dan Tatar Krimea, Rustem Umerov telah menjabat sejak September 2023.
Pendahulunya, Oleksii Reznikov, dipecat setelah serangkaian skandal korupsi yang melibatkan kementeriannya.
Tahun lalu, dua pejabat senior kehilangan pekerjaan mereka di tengah klaim bahwa kontrak makanan yang dipasok kepada tentara dibesar-besarkan.
“Bagi saya, korupsi pada saat perang lebih buruk daripada terorisme,” kata Rustem Umerov, dikutip dari The Guardian.
Dia mengatakan rekan-rekannya yang bekerja dengan lembaga pemerintah lainnya mengambil langkah-langkah untuk memberantas jalur korupsi dan mencegah masalah itu.
Meski demikian, Ukraina tetap optimis untuk mengalahkan Rusia.
“Meskipun situasi sulit, tentara kami dengan berani mempertahankan garis dan posisi mereka,” kata Panglima Ukraina, Oleksandr Syrsky, setelah mengunjungi pos komando garis depan pada Minggu.
Sebelumnya, ia memastikan penarikan pasukannya untuk mencari posisi yang lebih menguntungkan
Redaktur : Desi
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.