Bos Junta Militer Myanmar Gelar Ritual Minta Bantuan Gaib untuk Cegah Kekalahan Pasukannya
Bago, REQNews.com -- Jenderal Min Aung Hlaing, pemimpin junta militer Myanmar, Minggu 17 Maret menggelar ritual minta bantuan gaib untuk mencegah pasukannya kehilangan kendali atas satu kota di negara bagian Rakhine.
Situs Irrawaddy memberitakan Jenderal Min Aung Hlaing dan keluarganya berada di Bago untuk meresmikan pagoda kuno Kyaik Pannaya. Bago adalah ibu kota Kerajaan Mon abad ke-13 sampai 16. Pagoda itu dibangun Raja Mon lebih 1.000 tahun lalu.
Dalam ritual itu Jenderal Min Aung Hlaing membunyikan lonceng pagoda sembilan kali, sebagai tanda ia sedang mempraktekan yadaya -- ritual sihir Burma yang bertujuan menghindari kemalangan. Angka sembilan dianggap membawa keberuntungan dalam numerologi Burma, dan merupakan jimat para jenderal Myanmar.
Namun, upaya meminta bantuan gaib itu sia-sia. Beberapa jam setelah ritual itu, Jenderal Min Aung Hlaing mendapat kabar kota Rathedaung di negara bagian Rakhine jatuh ke tangan Tentara Arakan (AA) -- kelompok etnis bersenjata yang menyerang kekuasaan rezim sejak November 2023.
AA menambah koleksi kota-kota yang direbut di Rakhine, meliputi Pauktaw, Ponnagyun, Mrauk-U, Minbya, Myeobon, Ramree, Kyautaw, dan Taung Pyo Letwe, serta kota Paletwa di negara bagian Chin. AA kini mengepung Sittwe -- ibu kota negara bagian Rakhine yang masih dipertahankan junta.
Ingin Terus Berkuasa
Obsesi Jenderal Min Aung Hlaing dengan rekonsekrasi, atau pengkudusan kembali, pagoda tidak sekedar untuk mencegah kekalahan beruntun pasukannya tapi memenangkan kembali kursi kepresidenan Myanmar.
Dia meresmikan kembali Kuil Htilominlo yang dibangun abad ke-12 di Bagan pada Februari 2020, atau menjelang pemilihan umum November tahun yang sama. Secara tradisional, orang Burma meyakini penguasa yang memberi persembahan di pagoda itu akan menerima berkah ilahiah dan menikmati masa pemerintahan yang panjang.
Ia juga memiliki patung Buddha raksasa di Naypyitaw, yang disebut-sebut sebagai Buddha duduk tertinggi di dunia. Atribut patung Buddha Maravijaya erat kaitannya dengan angka sembilan. Maravijaya berarti menaklukan mara, atau bahaya.
Februari 2022, ketika pemberontakan bersenjata meningkat, Jenderal Min Aung Hlaing meresmikan kembali pagoda desa di Kotapraja Pwintbyu -- 20 kilometer dari Minbu di wilayah Magwe, tempat ia dilahirkan. Ia mengubah nama pagoda dari Thet Thar Pantaung menjadi Setkkyar Pantaung, dan keluarganya mengikuti upacara pentahbisan kembali.
Setelah Kekalahan di Shan
Jenderal Min Aung Hlaing punya kotak ajaib, berupa susunan angka, huruf, dan gambar khas Burma yang diukir di halaman pagoda. Kotak itu diyakini mengeluarkan kekuatan untuk menghindari pertentangan dan ancaman terhadap nyawa seseorang.
Saat Topan Mocha melanda negara bagian Rakhine, Mei 2023, Jenderal Min Aung Hlaing sibuk meresmikan sebuah pagoda di Kengtung, sebelah timur negara bagian Shan.
Pagoda itu dibangun Biksu U Kovida, mentor sang jenderal, yang dikenal dengan sumpah diamnya. Biksu Kovida juga terkenal sebagai ahli nujum dan praktisi ilmu gaib. Pers Myanmar yakin sang biksu adalah penasehat astrologi sang jenderal.
Tak lama setelah kudeta, Biksu Kovida dituduh menasehati Jenderal Min Aung Hlaing untuk memerintahan pasukannya menembak kepala pengunjuk rasa. Faktanya, sebagian besar pengunjuk rasa antirezim yang terbunuh di hari-hari awal setelah kudeta mengalami luka tembak di kepala.
Ketika militer Myanmar menderita kekalahan memalukan di utara negara bagian Shan akhir tahun lalu, Jenderal Min Aung Hlaing meresmikan kembali dua pagoda kuno di Nypyitaw pada 2 dan 3 Januari.
Ketika Tiongkok menjadi perantara gencatan senjata, Jenderal Min Aung Hlaing sedikit bernafas lega. Ia seolah melihat yadaya-nya berhasil. Itulah yang membuatnya meresmikan pagoda di Bago. Sayang, kali ini yadaya-nya tidak membawa keberuntungan.
Setelah kekalahan di negara bagian Shan, Jenderal Min Aung Hlaing relatif kehilangan dukungan di kalangan militer. Pengkritik menyebutnya Phaya Daga -- istilah Burma untuk seseorang yang membangun pagoda.
Keakraban Min Aung Hlaing pada klenik tidak terjadi saat ini saja. Ketika masih berwira muda, ia kerap membawa patung Buddha kecil, dengan harapan dapat mencegahnya dari bahaya apa pun.
Setelah melakukan kudeta, dan pemerintahannya menghadapi perlawanan di seluruh negeri, Min Aung Hlaing selalu mengatasinya dengan meresmikan pagoda. Ia seolah berusaha mencari berkah Tuhan, bukan bagaimana mengelola negara.
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.