REQNews.com

Netanyahu Cekcok dengan Kepala Pasukan Pertahanan dan Panglima-Bos Shin Bet

News

Monday, 13 May 2024 - 16:31

Perdana Menteri Israel Benjamin NetanyahuPerdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

JAKARTA, REQNews - Israel dikabarkan semakin terpecah usai Benjamin Netanyahu mendapat kritik keras dari Kepala Staf Pasukan Pertahanan (IDF) Herzi Halevi dan direktur badan keamanan Israel Shin Bet Ronen Bar.

Herzi Halevi mengkritik strategi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu soal siapa yang akan memerintah Jalur Gaza Palestina usai agresi brutalnya berakhir.

Hal tersebut disampaikan Halevi dalam sebuah rapat bersama Kabinet Perang Israel. Dalam rapat itu, Halevi dengan lantang menyebut Netanyahu "kekurangan strategi pasca-konflik".

Halevi yang memegang penuh kuasa tentara Israel pun mempertanyakan strategi lanjutan dari Netanyahu soal status kekuasaan yang saat ini "kosong" di sejumlah wilayah di Jalur Gaza.

Dilansir dari Anadolu Agency, Minggu 12 Mei 2024, Halevi juga mengutarakan kekecewaannya terhadap pemerintah Israel yang tak mampu mengembangkan strategi guna mengatur kawasan Jalur Gaza.

Halevi menekan Israel untuk segera membentuk pemerintahan selain Hamas Jalur Gaza. Ia menyalahkan Netanyahu yang "tidak jelas" strateginya mengakibatkan kekosongan kekuasaan di sejumlah wilayah Jalur Gaza.

Seperti Netanyahu, Halevi juga merupakan salah satu pejabat Israel yang disebut masuk daftar perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC).

Sementara itu, menurut Channel 12, PM Netanyahu juga dilaporkan berselisih paham dengan direktur badan keamanan Israel Shin Bet Ronen Bar.

Netanyahu disebut merasa tidak puas mengenai hasil pertemuan perencanaan strategi yang dilakukan Bar dengan Menteri Pertahanan Yoav Gallant.

Cekcok pemerintahan Netanyahu ini terjadi di tengah gempuran Israel yang masih membabi-buta ke Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu. Terlebih, militer Israel malah melancarkan serangan darat baru ke kota Rafah, Gaza sejak pekan lalu.

Gempuran brutal tersebut  mengusir warga Rafah yang masih bertahan di beberapa area. Agresi brutal yang tak kunjung usai tersebut juga telah menelan lebih dari 35.000 korban jiwa sejak 7 Oktober lalu.

Redaktur : Desi

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.