Buntut Pembunuhan Biksu Senior Oleh Junta Militer, Ribuan Biksu Myanmar Gelar Aksi Boikot
Naypyitaw, REQNews.com -- Biksu Myanmar, di dalam dan luar negeri, menggelar aksi boikot keagamaan terhadap pemerintah junta militer menyusul pembunuhan biksu senior pekan lalu.
Irrawaddy menulis aksi boikot dimulai dari Kotapraja Chaung-U di wilayah Sagaing, Minggu 23 Juni, atau empat hari setelah biksu senior Sayadaw Bhaddanta Munindabhivamsa di dekat Bandara Tada-U, Mandalay. Aksi saat itu diikuti 25 biksu.
Sayadaw Bhaddanta Munindabhivamsa adalah pensiunan anggota Komite Sangha Nayaka Nagara, otoritas Buddhist tertinggi di Myanmar. Ia juga kepala Win Biara Neinmitayon di wilayah Bago.
Yang membuat marah para biksu adalah junta militer berusaha menutupi pembunuhan ini dengan mengarang cerita bahwa Biksu Sayadaw Bhaddanta Munindabhivamsa ditembak pemberontak. Dua media yang dikelola junta militer menyebarkan kebohongan itu.
Biksu Bhaddanta Gunikabhivamsa, yang berada di dalam mobil bersama Sayadaw Bhaddanta Munindabhivamsa, mengungkap pembunuhan itu lewat video yang viral di sekujur Myanmar. Junta militer dengan berat hati mengakui tentaranya melakukan pembunuhan dan minta maaf.
Boikot dengan cepat menyebar ke empat kotapraja yang dikuasai pemberontak dan di Kotapraja Myaing di wilayah Magwe. Para biksu yang diasingkan ke luar negeri juga mendukung aksi boikot keagamaan.
Bagaimana dengan kelompok biksu pro-junta militer yang menikmati kemehwahan hidup? Tidak ada kabar tentang itu.
Sejarah Aksi Boikot
Dalam bahasa Pali, apa yang sedang dilakukan para biksu disebut pattanikkujjana, yang arti harfiahnya boikot dengan menolak pemberian dana dari orang-orang yang melakukan pelanggaran terhadap Sangha, atau prinsip agama, dan menolak menggelar upacara keagamaan; pernikahan dan pemakaman.
Sejarah Myanmr mencatat para biksu melakukan pattanikkujjana beberapa kali. Tahun 1990, aksi boikot digelar setelah tentara memukul para biksu pada peringatan pemberontakan 8888. Tahun 2007, pattanikkujjana digelar ketika rejim menindak para biksu yang memimpin demo menentang kenaikan harga.
Tindakan keras militer Myanmar saat itu memicu apa yang disebut Revolusi Saffron.
Seorang biksu dari Chaung-U, yang berpartisipasi dalam Revolusi Saffron 2007, menyatakan junta militer berturut-turut melakukan kekerasan terhadap biksu dan kini membunuh biksu senior dan paling dihormati.
Sejak 2021, atau setelah kudeta 1 Februari, junta militer menangkap biksu yang menolak rezim, memenjarakan, menyiksa, bahkan membunuh beberapa dari mereka.
"Rezim juga membunuh banyak penganut Buddha, dan tidak ada akhir yang terlihat," kata biksu itu kepada Irrawaddy. "Jadi kami bergabung dalam aksi boikot ini."
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.