REQNews.com

Berbagai Teori Konspirasi di Media Sosial Setelah Microsoft Down Global

News

Saturday, 20 July 2024 - 17:08

Washington, REQNews.com -- Sepanjang Jumat 19 Juli, setelah mampus global Microsoft Windows yang menyebabkan gangguan layanan bandara, perbankan, sampai saluran TV, muncul beragam teori konspirasi di media sosial.

Ada ketakutan akan Perang Dunia II, lainnya berceloteh ngawur dengan menghubungkan komplotan rahasia elit global dengan serangan siber, beberapa lainnya mengaitkan peristiwa dengan video yang tersedia di situs Forum Ekonomi Dunia (WEF).

"Saya pernah membaca bahwa Perang Dunia III sebagian besar adalah perang siber," tulis salah satu pengguna X.


Perjanjian Menyedihkan

Forum Ekonomi Dunia, yang telah lama menjadi magnet bagi kebohongan, telah merencanakan serangan siber global. Khusus yang satu ini, ahli teori konspirasi mengaitkan video lama WEF, yang memperingatkan kemungkinan serangan siber dengan karakteristik mirip Covid.

Video itu memperingatkan bahwa satu-satunya cara menghentikan penyebaran ancaman siber secara eksponensial adalah dengan memutus jutaan perangkat yang rentan satu sama lain dari internet.

Penganut teori konspirasi telah lama menargetkan WEF, mendorong gagasan komplotan rahasia para elite yang bekerja demi keuntungan pribadi, dengan alasan menyelesaikan masalah-masalah global.

Namun dari sekian banyak postingan, yang paling mendapat perhatian konsumen teori konspirasi di dunia maya adalah yang menggunakan tagar cyber polygon. Pemilik postingan membangun teorinya mengacu pada acara pelatihan global yang bertujuan mempersiapkan potensi serangan di masa depan.

Rafi Mendelsohn, wakil presiden perusahaan keamanan disinformasi Cyabra, mengatakan meningkatnya teori konspirasi setelah Microsoft Down Global adalah bukti menyedihkan sifat ekosistem informasi yang bergejolak.

"Yang unik adalah bagaimana platform media sosial, forum, dan aplikasi perpesanan memfasilitasi penyebaran konten secara cepat, memugkinkan teori konspirasi mendapatkan daya tarik dalam waktu singkat dan menjangkau khalayak," kata Mendelsohn.

Tren ini, masih menurut Mendelsohn, menunjukan kemampuan kebohongan bermutasi menjadi narasi viral di platform teknologi. Terutama platform yang mengurangi moderasi konten dan mengaktifkan kembali akun-akun yang dikenal sebagai penyedia misinformasi.

Akibatnya, di saat berita Microsoft Down Global berkembang pesat, kebingungan melanda platform teknologi besar, pengguna berebut mendapatkan informasi akurat di tengah lautan postingan palsu atau menyesatkan yang dengan cepat mendapat perhatian.


Motif Jahat

''Ini menimbulkan pertanyaan lebih besar dalam memerangi misinformasi dan disinformasi," kata Michael W Mosser, direktur eksekutif Lab Disinformasi Global di Universitas Texas.

Tingkat kepercayaan yang diperlukan untuk menerima informasi dari sumber terpercaya menurun sedemikian rupa, sehingga masyarakat lebih percaya pada konspirasi liar yang pasti benar dibanding informasi faktual yang disampaikan kepada mereka.

Pemadaman global, yang membuat banyak aspek kehidupan sehari-hari terhenti dan saham-saham anjlok, dikaitkan dengan bug dalam pembaruan program antivirus untuk sistem Windows dari CrowdStrike.

Jaminan dari George Kurz, CEO CrowdStrike, bahwa pihaknya telah melakukan perbaikan dan secara aktif bekerja untuk menyelesaikan krisis tidak banyak membantu membendung penyebaran teori konspirasi online.

"Memerangi misinformasi dengan bantahan faktual adalah sesuatu yang sulit, karena permasalahannya sangat teknis," kata Mosser. "Menjelaskan bahwa kesalahan terjadi pada file sistem yang tidak dikonfigurasi dengan benar, dan perbaikan sedang dalam proses, mungkun akurat tapi tidak dipercaya oleh mereka yang cenderung melihat motif jahat di balik kegagalan."
 

Redaktur : Teguh Setiawan

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.