Di Timor Leste, Paus Fransiskus akan Menghadapi Pertanyaan Soal Kasus Pelecehan Seksual Uskup Belo
Dili, REQNew.com -- Hampir tidak ada masalah dengan Paus Fransiskus saat berkunjung ke Indonesia dan Papua Nugini, tapi sesuatu yang berbeda akan dihadapi pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu saat menginjakan kaki di Timor Leste, Senin 9 September.
Kantor berita AFP memberitakan Paus Fransiskus dipastikan akan menghadapi pertanyaan soal pastor yang dirudung skandal pelecehan seksual anak, yang sebagian besar diabaikan para pahlawan kemerdekaan negeri itu.
Kasus yang melibatkan Uskup Carlos Ximenes Belo, pemenang Nobel Perdamaian yang populer sepanjang perjuangan negeri itu melepaskan diri dari Indonesia, mungkin yang paling menarik. Vatikan menjatuhkan hukuman terhadap Uskup Belo, setelah dinyatakan bersalah melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak selama beberapa dekade.
Ada seruan bagi Paus Fransiskus untuk berbicara tentang pelecehan anak saat berada bekas koloni Portugis itu.
"Kami akan meminta Yang Mulia Paus Fransiskus mendorong pemimpin dan rakyat Timor Leste mengambil tindakan lebih efektif guna mencegah pelecehan seksual," tulis Forum LSM Timor Leste, sebuah koalisi masyarakat sipil, dalam surat kepada Paus Fransiskus yang dikirim, Rabu lalu.
BishopAccountability.org, sebuah pusat dokumentasi pelecehan di Gereja Katolik, juga meminta Komisi Pelecehan Seksual Vatikan Kardinal Sean O'Malley mendesak Paus Fransiskus menjadi pembela korban pelecehan seksual.
Timor Leste yang mayoritas Katolik adalah satu dari banyak negara yang menderita pelecehan anak oleh para pastor, dan sekian lama dirahasiakan.
Tahun 2002, Paus Yohanes Paulus II menerima pengunduran diri Uskup Belo, yang saat itu menjadi kepala Gereja Katolik Timor Leste penerima Nobel Perdamaian 1996.
Vatikan saat itu mengatakan pengunduran diri Uskup Belo karena alasan kesehatan, tapi tidak ada penjelasan lanjutan. Setelah itu, Vatikan mengirim Uskup Belo ke Mozambique sebagai misionaris tempat dia bekerja dengan anak-anak. Dari Mozambique, Uskup Belo pindah ke Portugal.
Tahun 2020, Vatikan diam-diam menjatuhkan sanksi kepada Uskup Belo setelah klaim pelecehan seksual terhadap anak laki-laki di bawah umur selama periode 20 tahun, hingga tahun 2002.
Vatikan mengumumkan kepada publik setelah majalah De Groene Amsterdammer melaporkan pembatasan tersebut tahun 2022, termasuk kesaksian seorang korban yang mengaku diperkosa Uskup Belo.
Penulis laporan di majalah itu mengatakan tuduhan terhadap Belo sudah diketahui sejak 2002.
Dukungan Luas
Uskup Belo sangat dihormati di Timor Leste. Ia melindungi demonstran dan menyelamatkan nyawa mereka.
"Kami kehilangan dia. Kami merindukannya," kata Maria Dadi, presiden dewan pemuda Timor Leste kepada AFP. "Bagaimana pun, Uskup Belo berkontribusi pada perjuangan Timor Leste."
Dalam kasus lain, pastor Richard Daschbach dinyatakan bersalah melecehkan gadis-gadis yatim-piatu dan kurang beruntung. Ia dijatuhi hukuman 12 tahun penjara, tapi mendapat dukungan masyarakat Timor Leste.
PM Xanana Gusmao menuai kontroversi tahun lalu ketika mengunjungi Daschbach untuk merayakan ulang tahunnya. Gusmao berbagi kue dengan pedofilia yang dihukum itu, juga menghadiri persidangannya.
Fransisco Amaral da Silva, akademisi berusia 58 tahun, mengatakan Timor Leste mendukung Uskup Belo kembali saat Paus Fransiskus berkunjung.
Kantor Kepresidenan Timor Leste tidak menanggapi permintaan komentar. Presiden Ramos Horta mengatakan hukuman Uskup Belo harus ditangani Vatikan.
Paus Fransiskus akan bertemu umat Katolik, anak-anak, Sekte Jesuit, dan memimpin misa besar selama kunjungan ke Dili. Namun belum ada kepastian dia akan mengangkat kasus mengejutkan dari negara termiskin di dunia itu.
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.