Kasihan! Gegara Kerusuhan Warga Chile Mulai Kesulitan Dapat Sembako
INTERNASIONAL, REQnews – Lima hari sudah kerusuhan yang dipicu aksi demonstrasi di Chile berjalan. Akibat dari aksi-aksi anarkis tersebut membuat warga di sana mulai kesusahan mendapatkan bahan makanan dan bahan bakar. Bahkan mulai muncul kekhawatir soal penjarahan harta benda.
Melansir Associated Press pada Rabu 23 Oktober 2019, bentrok antara demonstran dan polisi masih tak terhindarkan di sejumlah wilayah. Sedangkan para penjarah mulai menyerbu toko-toko di Ibu Kota Santiago dan kota-kota lainnya.
Polisi dan tentara ditugaskan untuk menjaga sejumlah gerai swalayan. Hal itu membuat warga setempat kesulitan membeli kebutuhan pokok.
"Saya sudah berjalan beberapa kilometer untuk mencari susu, tetapi swalayan besar tetap tutup dan toko di dekat rumah saya sudah kehabisan stok," kata seorang warga, Carmen Fuentealba.
Sejumlah toko, stasiun kereta bawah tanah, dan bank hangus akibat dibakar massa. Sebagian lagi rusak karena dijarah.
Warga Chile juga mengaku sudah kesulitan menarik uang melalui anjungan tunai mandiri. Antrean mengular para penduduk untuk membeli bahan bakar juga terjadi di banyak stasiun pengisian bahan bakar.
Situasi itu juga membuat kegiatan usaha dan kerja terhenti. Selain itu, diperkirakan dua juta pelajar dan mahasiswa tidak bisa sekolah atau kuliah karena seluruh lembaga pendidikan ditutup sementara waktu.
Selain itu, korban yang tewas dalam kerusuhan Chile telah mencapai 15 orang. Pemerintah setempat juga memutuskan menetapkan status darurat nasional terhadap delapan dari 16 provinsi di negara itu. Bahkan ada juga penerapan jam malam selain di luar situasi bencana alam.
Hal ini menjadi yang pertama kali setelah negara itu kembali menerapkan demokrasi pada 1990, usai melalui fase diktator berdarah selama 17 tahun yang dipimpin Jenderal Augusto Pinochet.
Gejolak di Chile ini mulanya dipicu oleh kenaikan tarif transportasi umum khusus pada jam sibuk sebesar 1,17 dolar AS (sekitar Rp16 ribu). Padahal pada Januari lalu ongkos transportasi umum setempat juga sudah dinaikkan.
Pemerintah beralasan mengambil kebijakan itu karena kenaikan harga bahan bakar minyak dan nilai tukar Peso yang melemah.
Masyarakat Chile juga mengkritik pemerintah karena lambatnya pertumbuhan ekonomi, dan mendesak untuk mengubah undang-undang tenaga kerja, perpajakan, serta jaminan pensiun.
Presiden Sebastian Piñera memutuskan membatalkan kenaikan tarif transportasi umum. Dia juga berencana menaikkan tunjangan pensiun, upah minimum regional dan menunda kenaikan tarif dasar listrik.
Di sisi lain, Piñera juga berencana menaikkan pajak kepada orang-orang yang berpenghasilan di atas 11 ribu dOlar AS (sekitar Rp154 juta). Langkah itu diharapkan bisa meredakan amarah massa. (Binsasi)
Redaktur : Safwan Hadi Rachman
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.