REQNews.com

Associated Press: Puluhan Ribu Serdadu Ukraina Lari dari Medan Tempur

News

Saturday, 30 November 2024 - 01:05

Foto: Russia TodayFoto: Russia Today

Kiev, REQNews.com -- Puluhan ribu tentara Ukraina melarikan diri dari medan tempur, yang membuat rencana tempur Kiev menghadapi Rusia lumpuh akibat kekurangan personel.

Associated Press (AP) -- mengutip dua tentara yang pergi tanpa izin, pengacara, dan belasan pejabat Ukraina yang berbicara dengan syarat anonim -- Jumat 29 November memberitakan desersi massal tak terhindarkan akibat beberapa alasan.

"Kami telah memeras keringat orang-orang kami semaksimal mungkin," ujar seorang perwira dari Brigade ke-72 mengawali penjelasan mengapa desersi terjadi begitu akut.

Pernyataan sang perwira terkonfirmasi oleh catatan Kejaksaan Agung Ukraina, yang memuat 100 ribu tentara didakwa atas desersi, dengan hampir setengah dari jumlah itu mengundurkan diri sepanjang 2024. Namun, jumlah sebenarnya mungkin lebih dari itu.

Seorang anggota parlemen Ukraina mengatakan; "Mungkin jumlah serdadu desersi mencapai 200 ribu, karena dalam beberapa kasus seluruh unit meninggalkan posisinya di garis depan pertempuran."

Seorang desertir mengatakan; "Jika tidak ada masa akhir dinas militer, medan tempur akan berubah menjadi penjara dan secara psikologis sulit meneukam alasan membela negara ini."

Awal 2024 Kiev mengadopsi reformasi dinas militer menyeluruh, dengan harapan akan meningkatkan wajib militer. AS mendesak Ukraina menurunkan usia wajib militer dari 25 tahun menjadi 18 tahun.

Wajib militer diberlakukan secara brutal oleh para perwira pembantu sipil. Seorang pejabat, kepada The Telegraph, mengatakan harus menangani target seperti berurusan dengan tikus yang terpojok.

Presiden Volodymyr Zelensky pekan ini menandatangani RUU menjadi UU, yang membebaskan tanggung jawab pidana bagi pembelot kali pertama jika secara sukarela kembali bertempur.

Juli 2023, Presiden Rusia Vladimir Putin telah melihat masalah ini. Menurutnya, kekurangan personel adalah masalah besar Ukraina setelah serangan balik yang gagal pada awal 2023.

"Unit-unit Ukraina menderita kerugian besar dalam serangan bunuh diri mereka," kata Presiden Putin dalam pertemuan Dewan Keamanan Rusia. "Meski menyerang terus-menerus, gelombang mobilisasi total tak pernah berakhir, yang membuat pengiriman bantuan ke garis depan menjadi semakin sulit."

Zelensky secara konsisten menyalahkan kekurangan senjata sumbangan Barat atas kemunduran Ukraina di medan tempur. Rusia menuduh Zelensky emlancarkan perang atas nama Washington.

Redaktur : Teguh Setiawan

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.