REQNews.com

Tokyo Berlakukan Kebijakan Empat Hari Kerja, Ini Alasannya

News

Minggu, 15 Desember 2024 - 21:00

Ilustrasi Pekerja Jepang (Foto:Istimewa)Ilustrasi Pekerja Jepang (Foto:Istimewa)

TOKYO, REQNews  – Ibu kota Jepang, Tokyo memberlakukan empat hari kerja seminggu bagi pegawai kota dalam upaya meringankan beban orang tua dan mendukung keluarga muda memiliki lebih banyak waktu bersama.

Perubahan ini bertujuan mengatasi fakto-faktor yang menyebabkan banyak pasangan Jepang enggan memiliki anak.

Angka kelahiran di Jepang tahun lalu turun ke rekor terendah yaitu 1,2 anak per wanita selama hidupnya.

Pemberlakukan empat hari kerja ini diumumkan Gubernur Tokyo Yuriko Koike pekan ini dan akan berlaku mulai April.

Menurut aturan ini, pegawai pemerintah metropolitan akan memiliki pilihan untuk mengambil cuti tiga hari setiap minggu.

"Kami akan terus meninjau gaya kerja kami secara fleksibel sehingga tidak ada yang harus meninggalkan karier mereka karena berbagai peristiwa penting dalam hidup seperti melahirkan dan mengasuh anak," kata Koike dalam pidato kebijakan di sesi reguler keempat Majelis Metropolitan Tokyo, sebagaimana dilansir Newsweek.

"Kini saatnya bagi Tokyo untuk mengambil inisiatif guna melindungi dan meningkatkan kehidupan, mata pencaharian, dan ekonomi rakyat kita selama masa-masa sulit bagi negara ini," imbuhnya.

Banyak pekerja kota Tokyo menikmati fleksibilitas, seperti dapat memilih kapan harus masuk dan pulang kerja serta pilihan untuk mengambil satu hari libur setiap empat minggu.

Dalam sambutannya, Koike juga mengumumkan kebijakan terpisah untuk mengizinkan orang tua siswa kelas satu hingga tiga untuk pulang kerja hingga dua jam lebih awal dengan imbalan gaji yang sedikit dikurangi.

Diharapkan, kebijakan ini dapat membantu orang tua mengurus anak mereka lebih baik, sementara pasangan muda memilki lebih banyak waktu intim bersama, yang dapat berdampak pada kenaikan tingkat kelahiran.

Kesulitan demografi Jepang terus memburuk, menimbulkan pertanyaan tentang dampak jangka panjang pada ekonomi terbesar kedua di Asia tersebut.

Antara Januari dan Juni, Jepang hanya mencatat 350.074 kelahiran—penurunan hampir 6 persen dari tahun ke tahun dan angka enam bulan terendah sejak pencatatan dimulai pada 1969.

Sementara itu, kematian meningkat sebesar 2 persen menjadi 811.819, yang merupakan rekor baru dalam 55 tahun. Hampir 30 persen dari populasi Jepang kini berusia di atas 65 tahun.

Angka kesuburan, atau jumlah rata-rata anak yang diharapkan dimiliki seorang wanita dalam hidupnya, turun ke rekor terendah 1,2 tahun lalu. Jumlah pernikahan juga turun menjadi 474.717, jumlah terendah sejak Perang Dunia II.

Redaktur : Desi

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.