Soal Kenaikan PPN Jadi 12 Persen, Pengamat Sebut Angka Pengangguran 2025 Bakal Bertambah!
JAKARTA, REQnews - Pendiri Celios, Media Wahyudi Askar mengingatkan terkait dengan resiko jika rencana pemerintah untuk menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen tetap dilakukan.
Menurutnya, kebijakan tersebut bukan hanya langkah yang kontroversial, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, salah satunya meningkatnya angka pengangguran.
Hal itu dikatakan Wahyudi dalam sebuah podcast bersama Akbar Faizal. Dalam diskusi tersebut, dirinya mengungkap tentang pesan-pesan Ekonom, Faisal Basri sebelum meninggal.
"Saya ingat sekali almarhum pak Faisal Basri sudah mengingatkan ini enam bulan lalu sebelum beliau meninggal," kata Wahyudi dikutip pada Minggu 29 Desember 2024.
Menurutnya, jika PPN tetap naik menjadi 12 persen di tahun 2025, negara memang akan mendapatkan keuntungan sekitar Rp50 triliun. Tetapi, juga mengalami kerugian yang besar.
"Tapi kerugian yang didapatkan negara jauh lebih besar dari itu. Resiko yang kami hitung pake input output, surplus usaha itu hilang sekitar Rp41 triliun," kata dia.
Bahkan, menurutnya pertumbuhan ekonomi hanya akan berada pada angka 4,09 persen. Tak hanya itu, pengangguran pun akan bertambah sekitar 554 ribu orang pada tahun 2025.
"Ada banyak angka lainnya di report Celios, tapi kita hitung satu-satu dampaknya terhadap ekonomi makro dan mikro. Bahkan Bang Faisal sempat bilang kenapa pajak ekspor batu bara yang dikejar," lanjutnya.
Wahyudi menyebut bahwa di antara tiga komponen pajak yaitu ada konsumsi, penghasilan, dan capital income, pajak konsumsi menjadi yang paling mengalami kemunduran.
Diketahui, aturan soal PPN 12 persen memang masuk dalam UU HPP yang telah disahkan DPR dan pemerintah pada era kepemimpinan Jokowi.
Namun, belakangan ini kebijakan yang mulai berlaku pada 2025 itu, mendapat sejumlah penolakan dari berbagai elemen masyarakat. Kebijakan tersebut dinilai semakin menyulitkan ekonomi masyarakat, terutama kalangan bawah.
Redaktur : Hastina
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.