Harga Batu Bara Melorot Akibat Perang Dagang AS Vs Cina
JAKARTA, REQNews - Harga batu bara terus mengalami penurunan, pasca Presiden AS Donald Trump dan pemimpin China Xi Jinping resmi memulai babak baru perang dagang.
Diketahui, mulai 4 Februari, AS memberlakukan tarif 10% terhadap berbagai produk impor dari Cina. Kondisi ini membuat Cina pun menerapkan serangkaian tarif balasan yang menargetkan impor batu bara, gas alam cair, minyak mentah, serta peralatan pertanian dari AS.
Selain itu, Beijing juga membuka penyelidikan anti-monopoli terhadap raksasa teknologi Google, yang berada di bawah naungan Alphabet Inc.
Perang dagang ini tentunya berpotensi memiliki dampak luas terhadap rivalitas ekonomi AS-Cina di panggung global.
Dilansir dari Refinitiv, harga batu bara pada Kamis 6 Februari 2025 tercatat sebesar US$113,5/ton atau turun 1,9% dibandingkan penutupan perdagangan 05 Februari 2025 yang sebesar US$114,75/ton.
Perang tarif antara AS dan Cina ini diperkirakan akan menciptakan potensi kelebihan pasokan batubara AS yang ditawarkan di Asia karena pengalihan dari Cina.
Hampir tidak ada penawaran untuk pengiriman batubara laut AS baru di Cina pada Rabu 5 Februari 2025 atau hari pertama pasar Cina kembali dibuka, dikutip dari S&P.
Tarif impor tambahan 15% yang mulai berlaku pada 10 Februari, di atas tarif 3% yang ada, akan sangat "menyakitkan".
"Pembeli (di Cina) sedang menghadapi dilemma. Mereka yang sudah membayar untuk pengiriman mereka, atau telah mengeluarkan surat kredit mereka, mungkin tidak punya pilihan selain membayar tarif saat pengiriman tiba. Namun, mereka yang belum mencapai tahap itu mungkin meminta penjual untuk meninjau kembali penjualan tersebut," tutur salah satu pedagang, dikutip dari S&P.
Sebaliknya, harga batubara kokas semi-lunak AS Bailey di sisi pelabuhan Cina dilaporkan sedikit naik sebesar CNY 20-30/ton menjadi CNY 1.070-1.080/ton di tengah antisipasi berkurangnya pengiriman Bailey ke Cina setelah penerapan tarif.
Secara bersamaan, penjual batubara AS ke Cina dilaporkan berlomba-lomba mencari pembeli alternatif di wilayah tersebut, dengan beberapa di antaranya bahkan menahan pengiriman yang sudah dalam perjalanan.
"Kami meminta tawaran dari pembeli potensial di Malaysia, Indonesia, India, Jepang, dan Korea Selatan. Mengalihkan pengiriman ke tujuan alternatif akan menimbulkan biaya tambahan, yang membuat sulit bagi penjual untuk segera memberikan tawaran harga tetap," tambah pedagang tersebut.
Sumber lain mengatakan adanya kemungkinan lebih tinggi untuk minat potensial dari India dan Asia Tenggara untuk pengiriman batubara AS yang terdampak, mengingat situasi margin baja yang rendah yang baru-baru ini dihadapi oleh produsen baja regional.
"Jika harga pengiriman ini cukup rendah, benar bahwa itu akan menarik pembeli di sini untuk membeli batubara ini daripada batubara Australia yang tidak terjual. Itu akan mengurangi biaya mereka," kata seorang pembuat baja India.
Pelaku pasar batu bara di India menyebut adanya peningkatan pengiriman batubara AS yang ditawarkan setelah China mengumumkan tarif balasannya.
Namun, sejauh ini tidak ada harga tawaran pasti yang menarik karena penjual sebagian besar masih mencari pembeli yang tertarik.
"Jika harga sisi pelabuhan Cina untuk Bailey sekitar $125/mt CFR setara, agar mereka bisa menjualnya, harga setelah potongan 15% tambahan bisa sekitar $107/mt CFR tipe Cina," kata seorang pedagang Cina.
Trader batubara Australia memperkirakan dampak berantai yang kemungkinan akan mempengaruhi harga batubara spot Australia, karena lonjakan mendadak dalam pengiriman batubara AS yang tersedia di Asia pada akhirnya membuat pasokan melonjak karena "terlalu banyak ikan di kolam."
"Kelebihan pasokan ini bukan masalah kecil, masalah AS sekarang terhubung dengan Australia. Batubara AS akan menggantikan permintaan di Asia Tenggara dan India dan kemudian batubara Australia harus kembali ke Cina, di mana harga rendah." Ujar pedagang tersebut, kepada S&P.
Seorang pembuat baja India lainnya memperkirakan kelebihan pasokan pengiriman batubara kokas akan semakin parah jika batubara AS juga mulai masuk ke negara tersebut, sambil berharap dapat memperoleh batubara AS dengan diskon yang layak.
Beberapa pedagang yang menangani batubara AS telah mengambil langkah pencegahan dengan mengantisipasi situasi tarif timbal balik seperti itu, mengingat bahwa pembeli di Cina telah mencari ketentuan dan syarat perlindungan untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut sejak kuartal keempat 2024.
"Kami tidak memiliki pengiriman yang menuju ke Cina karena semua orang sudah takut tarif sebelum Tahun Baru Imlek," kata seorang pedagang yang berbasis di Cina.
Cina telah mengimpor 10,7 juta mt batu bara metalurgi asal AS pada tahun 2024 atau setara denga 8,7% dari total impor negara tersebut.
Babak baru perang dagang ini menandai fase baru dalam persaingan AS-Cina, di mana kedua negara berusaha memaksimalkan pengaruh ekonomi dan politik mereka di tingkat global.
AS mengandalkan kekuatan konsumen dan dolar yang kuat, Cina mencoba menavigasi tantangan ini dengan strategi ekonomi yang lebih matang. Namun, risiko eskalasi lebih lanjut tetap tinggi, yang dapat berdampak pada stabilitas ekonomi global dalam jangka panjang.
Sementara itu, harga batu bara Newcastle untuk Februari 2025 anjlok US$ 1,7 menjadi US$ 107,25 per ton. Sedangkan Maret 2025 ambles US$ 2,75 menjadi US$ 110,75 per ton. Sementara itu, April 2025 jatuh US$ 2,6 menjadi US$ 114,2 per ton.
Sedangkan, harga batu bara Rotterdam untuk Februari 2025 jatuh US$ 1,15 menjadi US$ 105 Sedangkan, Maret 2025 terkoreksi US$ 1,5 menjadi US$ 104,2. Sedangkan pada April 2025 turun US$ 1,6 menjadi US$ 104.
Redaktur : Desi
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.