Tiga Tahun Setelah Pembunuhan Mantan PM Shinzo Abe, Pengadilan Jepang Bubarkan Gereja Moonies
Tokyo, REQNews.com -- Pengadilan Distrik Tokyo, Selasa 25 Maret, memerintahkan pemerintah mencabut pengakuan resmi terhadap Gereja Unifikasi -- sebuah sekte keagamaan yang berkembang di Korea Selatan dan Jepang -- menyusul pembunuhan mantan perdana menteri Shinzo Abe.
Gereja Moonies, demikian orang Jepang menyebutnya, dituduh menekan pengikutnya untk memberi sumbangan yang merusak kehidupan, dan disalahkan atas penelantaran anak para anggotanya. Gereja Moonies membantah semua tuduhan itu, tapi pengadilan menemukan bukti untuk mengambil keputusan.
Moonies mengacu pada almarhum Sun Myung Moon, pendiri gereja itu. Gereja Moonies menyedot perhatian setelah pembunuhan mantan PM Jepang Shinso Zbe saat berkampanye tahun 2022. Abe diduga diserang pria yang membanci Gereja Moonies.
Tetsuya Yamagami (44), tersangka pembunuh, marah dengan Gereja Moonies yang membuat keluarganya bangkrut setelah ibunya menyumbangkan 100 juta yen, atau Rp 16 miliar lebih, kepada gereja.
Penyelidikan setelah pembunuhan Abe mengungkap hubungan dekat sekte itu dengan banyak anggota parlemen partai penguasa yang konservatif. Akibatnya, empat menteri mengundurkan diri.
Kenyataan ini mendorong pemerintah pada tahun 2023 untuk meminta izin pengadilan agar Gereja Moonies dibubarkan secara hukum.
Penyebab Kerusakan
Perintah pengadilan, setelah diberlakukan, akan menghapus status bebas pajak bagi Gereja Moonies dan mencap organisasi gereja sebagai entitas berbahaya. Namun, kata para ahli, Gereja Moonies masih dapat melanjutkan praktek keagamaan.
"Reputasinya akan menurun dan jumlah pengikutnya akan berkurang," kata pengacara Katsuomi Abe, yang mewakili mantan penganut yang mencari kompensasi setelah memberikan sumbangan besar.
"Saya tidak berpikir ada organisasi lain yang menyebabkan kerusakan seperti ini," lanjut Abe.
Gereja Moonie berada di Jepang sejak beberapa dekade lalu. Selama itu mereka mengeruk sumbangan berjumlah ratusan juta dolar dari pengikutnya.
Sejak 2023, misalnya, hampir 200 orang menuntut ganti rugi 5,7 miliar yen atau 38 juta dolar AS. Abe menyambut baik keputusan pengadilan, karena merupakan bukti para hakim mendengarkan suara korban.
"Saya sangat terharu," kata Masaki Kito, yang menangani kasus-kasus mantan anggota Gereja Moonies selama lebih 30 tahun.
Namun, menurut Kito, pemerintah harus bertindak cepat dengan mengungkap jumlah korban yang membengkak dalam tiga dekade terakhir.
Gereja Unifikasi mengatakan mereka menanggapi keputusan pengadilan dengan sangat serius tapi tidak dapat menerimanya. Kelompok itu, yang bernama resmi Federasi Keluarga untuk Perdamaian dan Unifikasi Dunia, mengatakan mereka berencana mengajukan banding.
Pengacara memperingatakan bahwa pihak gereja dapat mentransfer keuanganke tempat lain, sebab tidak ada undang-undang yang memerintahkan pengembalian uang donatur.
Gereja Unifikasi terkenal secara global sejak 1970-an dan 1980-an, atau dua dekade setelah didirikan. Lebih terkenal lagi setelah mereka setiap tahun mengadakan pernikahan massal di stadion.
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
