Presiden Trump akan Deportasi 10 Ribu Warga Afghanistan yang Lari dari Taliban, Veteran AS Protes
Washington, REQNews.com -- Veteran AS mengencam keputusan Presiden Donald Trump mendeportasi warga Afghanistan yang melarikan diri dari Taliban, karena akan mengingkari janji kepada sekutu di masa perang.
"Jika mereka mecoba mendeportasi warga Afghanistan, Anda akan melihat konflik fisik yang nyata antara veteran dan ICE," kata Matt Zeller, seorang veteran Angkatan Darat AS yang diselamatkan juru bicara Afghanistan dan kini mengadvokasi para pengungsi.
Awal bulan ini Menteri Kemanan Dalam Negeri Kristi Noem mengumumkan penghentian status perlindungan sementara (TPS) bagi warga Afghanistan. Keputusan ini akan berarti ribuan pengungsi Afghanistan, yang lari saat pasukan AS hengkang, berpotensi dideportasi mulai Juli 2025.
Lebih 10 ribu warga Afghanistan berlindung di bawah TPS, saat mencari status hukum permanen -- sebuah proses yang terhambat oleh penarikan pasukan AS tahun 2021 dan panduan imigrasi yang tidak jelas selama evakuasi Kabul.
"Bagi saya, sebagai veteran, ini sangat menyinggung. Jika ada negara yang pantas mendapatkan TPS itu adalah Afghanistan," kata Andrew Sullivan, mantan komandan infanteri yang bekerja dengan No One Left Behind -- sebuah lembaga nirlaba yang mendukung sekutu Afghanistan dan Irak.
Pemerintah Trump mengklaim terjadi perbaikan penting di Afghanistan di bawah Taliban. Namun, Sullivan mencap komentar itu sangat menggelikan. Sebab, banyak warga Afghanistan yang bekerja dengan AS menghadapi siksaan sampai lumpuh.
Laporan Human Rights Watch 2005 menyebutkan Taliban mengintensifkan penindasannya, terutama terhadap perempuan dan anak eprempuan, dengan lebih separuh populasi membutuhkan bantuan dan jutaan orang menghadapi kelaparan ekstrem.
Shawn VanDiver, veteran Angkatan Laut dan presiden #AfghanEvac, mengatakan; "Mereka adalah orang-orang yang melakukan kejahatan satu-satunya, yaitu pernah tinggal, belajar, dan bekerja di AS. Kini, dengan penghentian TPS dan tidak ada jalan keluar yang layak, mereka menghadapi pilihan mustahil; kembali dan dianiaya atau dideportasi paksa dari negara yang mereka percaya dapat melindungi mereka."
Ia melanjutkan; "Ini kehidupan nyata, bukan topik pembicaraan. Taliban tidak melakukan penilaian. Mereka memeriksa resume. Mereka membunuh orang karena berhubungan dengan AS."
Brian Mast, anggota Kongres dari Partai Republik, kehilangan kedua kakinya saat bertugas di Afghanistan. Menurutnya, harga warga Afghanistan yang bekerja langsung dengan AS yang layak mendapatkan perlindungan.
"Mungkin mereka bekerja sebagai pelayan di restoran Thanks God In Fridays di pangkalan. Itu tidak berarti mereka ikut dalam misi bersama saya," katanya.
Senat AS baru-baru ini mempertanyakan kebijakan itu selama sidang dengar pendapat, tapi jawaban pejabat Departemen Luar Negeri As tidak jelas. Senator Marco Rubio hanya mengatakan peninjauan sedang berlangsung.
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.