Israel Mau Bikin Pusat Komunitas dan Ibadah Yahudi, Penduduk Filipina Selatan Protes Keras
Manila, REQNews.com -- Penduduk Siargao, pulau resor di lepas pantai Surigao den Norte di Mindanao, selatan Filipina, mengatakan sangat khawatir dengan kian meningkatnya pengunjung Israel dan memprotes rencana pembangunan Pusat Komunitas Israel karena akan menggusur permukiman mereka.
"Kami menjadi tidak betah di rumah kami sendiri," kata Maria Lalaine Tokong, penyanyi dan organisator komunitas yang berbasis di Siargao. "Banyak wisatawan Israel mengabaikan budaya dan adat istiadat masyarakat."
Siargao adalah lokasi selancar utama di Filipina dan salah satu tujuan wisata paling populer.
Tokong mengunggah kekhawatirannya di media sosial, dan mendapat puluhan ribu interaksi. Banyak warga Filipina yang juga merasakan kekhawatiran serupa.
Rencananya, Israel akan membuka rumah Chabad -- sebuah pusat komunitas dan tempat ibadah Yahudi -- di Siargao. Perwakilan Kedubes Israel di Manila mendatangi Siargao, Mei lalu, tapi disambut protes masyarakat.
"Kami tidak menginginkannya," ujat Tokong kepada Arab News. "Ketika kami berbicara tentang pusat kebudayaan itu dengan Kedubes Israel, kami secara khusus mengatakan kepada mereka; Apa tujuannya? Kami sudah memiliki sistem pendidikan. Kami memiliki gereja di sini."
April lalu, Project Paradise -- sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berbasis di Siargao -- mengadakan rapat umum dengan warga dan pemilik usaha untuk menampung keluhan penduduk.
"Kami menerima laporan mengenai ketidakpatuhan wisatawan Israel terhadap adat dan nilai-nilai lokal," kata Sofia Nicole de Asis, presiden Project Paradise. "Wisatawan Israel menciptakan kebisingan, mengemudi ugal-ugalan, mengabaikan kesopanan berpakaian di pedesaan, dan berperilaku tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan. Misal, membuang sampah di pantai atau kawasan lindung."
De Asis mengatakan insiden itu tidak hanya terjadi pada satu kelompok tertentu. "Sikap kami adalah pelanggaran merupakan masalah perilaku, bukan kebangsaan," kata De Asis.
Menurut De Asis, wisatawan Israel tidak berhak mendirikan pusat budaya karena tidak memiliki akar atau hubungan dengan sejarah Filipina. Seorang pengguna media sosial menulis; "Bebaskan Palestina hari ini, agar kami tidak berteriak bebaskan Siargao besok."
Netizen lain menulis; "Orang-orang itu disambut di Filipina dan diperlakukan dengan keramahan yang tulus, tapi mereka mengabaikan hukum kami dan tidak menghormati masyarakat dan komunitas kami. Pemerintah Siargao harus menegakan semua aturan dan peraturan setempat dengan tegas."
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
