Demonstrasi Massal di Iran Telan Ratusan Nyawa, Keluarga Cari Korban di Kamar Forensik
TEHERAN, REQNews - Gelombang protes yang mengguncang Iran selama dua pekan terakhir berujung pada tragedi kemanusiaan. Jumlah korban jiwa akibat bentrokan dalam aksi demonstrasi dilaporkan mendekati 500 orang, menandai salah satu periode paling berdarah dalam sejarah protes di negara tersebut.
Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat mencatat, hingga Minggu 11 Januari 2026, sedikitnya ratusan orang kehilangan nyawa sejak demonstrasi pecah. Selain korban tewas, aparat juga dilaporkan telah menahan lebih dari 10 ribu orang yang tersebar di berbagai kota, dengan beragam tuduhan hukum.
Situasi mencekam terlihat di Provinsi Teheran. Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan warga mendatangi Pusat Medis Forensik Kahrizak, berharap menemukan kabar tentang anggota keluarga mereka yang tak kunjung pulang. Suasana di lokasi dipenuhi kecemasan dan duka.
Rekaman yang telah diverifikasi oleh CNN menunjukkan kerumunan orang berdiri di depan layar monitor yang menampilkan foto-foto jenazah. Di layar tersebut tercantum data ratusan korban, dengan jumlah yang ditampilkan mencapai sekitar 250 orang.
Gambar lain memperlihatkan aktivitas padat di area forensik. Jenazah-jenazah terlihat dibungkus kantong mayat dan diletakkan di koridor luar gedung, sementara keluarga korban menunggu dengan wajah tegang dan penuh harap.
Kondisi di fasilitas tersebut juga dilaporkan oleh kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim. Media itu menyebut pusat forensik dipenuhi jenazah korban demonstrasi yang sebagian besar merupakan warga sipil.
Menurut keterangan keluarga korban yang dikutip Tasnim, banyak dari mereka yang tewas bukanlah peserta aktif aksi protes. Sebagian disebut hanya berada di sekitar lokasi demonstrasi atau ikut terbawa arus kerumunan tanpa niat untuk berdemonstrasi.
Lonjakan korban dan penangkapan massal ini memicu sorotan luas dari komunitas internasional, yang terus mendesak adanya transparansi serta perlindungan hak asasi manusia di tengah eskalasi ketegangan di Iran.
Redaktur : Desi
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.