REQNews.com

Usai Kirim Surat ke UNICEF soal MBG, Ketua BEM UGM Mengaku Diteror, Ini Nasihat Anggota DPR

News

Senin, 23 Februari 2026 - 12:00

Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto (Foto:Istimewa)Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto (Foto:Istimewa)

JAKARTA, REQNews - Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mengaku mengalami serangkaian teror sejak awal Februari 2026. Pengakuan tersebut kemudian mendapat respons dari Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, yang mengusulkan agar Tiyo segera membuat laporan polisi.

“Terkait informasi adanya teror terhadap Ketua BEM UGM, kami berharap yang bersangkutan membuat laporan polisi, dan selanjutnya bisa ditindak oleh aparat,” beber Habiburokhman kepada wartawan, Sabtu 21 Februari 2026.

Ia menilai laporan resmi akan menjadi pintu masuk bagi aparat penegak hukum untuk mengusut pelaku. Habiburokhman juga menegaskan bahwa teror tersebut bukan berasal dari pendukung Presiden RI, Prabowo Subianto.

“Kami pastikan pelaku teror bukan dari pendukung Pak Prabowo. Sebaliknya, kami perlu informasikan bahwa saat ini ada beberapa pendukung Pak Prabowo juga mendapat ancaman teror. Saya juga meminta rekan-rekan tersebut juga membuat laporan polisi,” jelasnya.

Menurutnya, situasi ini patut diwaspadai karena bisa jadi ada pihak lain yang berupaya memecah belah masyarakat.

“Waspada ada pihak ketiga yang mau mengadu domba bangsa kita. Situasi saat ini bisa saja ada pihak yang ingin memancing di air keruh,” tambahnya.

Sebelumnya, Tiyo mengungkapkan bahwa teror mulai diterimanya sejak 9 Februari 2026. Ia mengaku mendapat pesan dari sekitar enam nomor asing yang berasal dari luar negeri, berisi ancaman serius.

“Teror itu sejak Selasa, 9 Februari. Ada sekitar 6 nomor asing (dari luar negeri). Itu isinya ada ancaman penculikan, ada ancaman untuk katanya membuka aib,” kata Tiyo, Jumat 20 Februari 2026.

Tidak hanya ancaman melalui pesan, Tiyo juga mengaku sempat mengalami penguntitan pada Rabu 11 Februari 2026. Saat itu, ia sedang berada di sebuah kedai ketika merasa diikuti dan difoto oleh orang tak dikenal.

“Ada juga pengalaman sempat dikuntit. Jadi saya sedang di sebuah kedai, dan dari jauh ada orang yang menguntit sekaligus memfoto. Tetapi, ketika kami kejar, dia sudah segera pergi. Ini alarm yang menunjukkan bahwa demokrasi kita nggak baik-baik saja,” pungkasnya.

Teror ini muncul setelah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM mengirimkan surat terbuka kepada UNICEF terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kasus bunuh diri seorang siswa SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang disebut tidak mampu membeli alat tulis seharga Rp10 ribu. Surat tersebut ditandatangani Tiyo Ardianto dan diunggah melalui akun Instagram @bem.ugm pada 6 Februari 2026.

Dalam surat itu, BEM UGM menyoroti tragedi meninggalnya siswa SD di NTT sebagai cerminan kegagalan negara dalam menjamin hak dasar anak, khususnya hak pendidikan. Mereka juga mengkritik kebijakan pemangkasan anggaran pendidikan untuk program MBG yang dinilai berisiko.

“Dan yang terpenting, tolong sampaikan kepada Prabowo Subianto betapa bodohnya dirinya sebagai seorang Presiden. Kebodohannya telah melahirkan masalah-masalah mendasar yang berujung pada hilangnya nyawa tak bersalah—sebuah kejahatan yang tak termaafkan terhadap kemanusiaan,” tulis Tiyo dalam surat tersebut.

Kini kasus dugaan teror ini kini menjadi perhatian publik.

Redaktur : Desi

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.