Setelah Teruji di Ukraina, Drone Shahed Kini Jadi Andalan Iran Hadapi Israel-AS
Tehran, REQNews.com -- Drone Shahed menyita perhatian dunia ketika digunakan Rusia dalam perang di Ukraina. Kini, Iran -- produsen drone Shahed -- menggunakannya untuk melawan senjata mewah Israel dan AS.
Tehran meluncurkan ratusan rudal dan drone Shahed ke seluruh Timur Tengah, sebagai balasan atas serangan AS-Israel, Sabtu 28 Februari. Drone menyasar hampir seluruh pangkalan militer AS di Timur Tengah, dan terbang hingga pangkalan AU Kerajaan Inggris di Akrotiri, Siprus, dan menghantam landas pacu.
AS juga mengerahkan drone serang satu arah berbiaya rendah. Menariknya, AS meniru model drone buatan Iran.
Perkenalkan! Drone Shahed
Shahed adalah kata dalam Bahasa Persia yang artinya kendaraan udara tak berawak. Drone Shahed adalah kendaraan serang satu arah berbiaya rendah, dan sering disebut drone kamikaze atau bunuh diri.
Prinsip dasar drone ini adalah rudal berpemandu terbang menuju target dan meledak saat mengenai sasaran.
Keunggulan utama drone Shahed adalah pada skala produksi. Iran mampu menghasilkan drone model ini dalam skala besar. Drone Shahed tidak beroperasi tunggal, tapi dalam kelompok puluhan, menghujani pertahanan udara dari berbaga arah dan melumpuhkannya.
Rudal balistik dan jelajah terbang lebih cepat dan memiliki daya hancur lebih besar tapi mahal. Satu rudal jelajah, misalnya, berharga jutaan dolar AS. Drone Shahed berhaga antara 20 ribu sampai 50 ribu dolar per unit.
Drone Shahed mampu terbang sejauh 2.000 kilometer dan melaju dengan kecepatan 180 kilometer per jam. Dibanding rudal, drone Shahed lambat tapi efektif.
Warga Ukraina terlanjur akrab dengan drone Shahed dan menjulukinya 'moped karena suara dengungnya yang khas.
AS Meniru
AS tidak punya pilihan selain meniru Iran, dengan mengerahkan drone serang satu arah berbiaya rendah. Alasannya, agar perang lebih murah.
Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan drone sekali sarang lebih murah dari rudal tradisional, dan dibangun berdasarkan teknologi Iran.
"Drone berbiaya rendah ini, dimodelkan menurut drone Shahed buatan Itan, memberikan pembalasan buatan AS," kata Centcom dalam pernyataan di akun X.
Foto-foto yang dirilis Pentagon memperlihatkan drone murah buatan AS itu menyerupai Low-cost Unmanned Combat Attack System (LUCAS) yang diproduksi Spekworks di Phoenix, Arizona.
Liu Mei Ching, peneliti madya di Sekolah Studi Internsional S Rajaratnam (RSIS), mengatakan penggunaan LUCAS sangat signifikan karena drone ini hasil rekayasa balik dari Shahed 136. "AS memberi pelajaran setimpal kepada Iran," kata Liu Mei Ching.
LUCAS diproduksi dengan biaya 35 ribu dolar AS. Sedangkan rudal Tomahawk berharga 2,5 juta dolar per unit. Penggunaan LUCAS dalam perang ini memperlihatkan AS tidak memiliki sumber daya tak terbatas. AS memiliki anggaran terbatas, dan perlu berhemat.
Analis mengatakan penggunaan Shahed dan LUCAS mewakili tren perang modern.
"Biaya menjadi faktor penentu dalam persenjataan, dan militer kian beralih menggunakan drone murah untuk mencapai tujuah operasional," kata Liu.
Dikembangkan Rusia
Setelah memperlihatkan kinerja memuaskan di medan tempur Ukraina, Rusa menjalin kesepakatan dengan Tehran untuk mengimpor drone Shahed dan menginvestasikan dua miliar dolar untuk mendirikan pabriknya.
Namun, Rusia tidak sekedar menggunakan drone Shahed begitu saja. Para insinyur Rusia meningkatkan kemampuan terbang drone itu, terutama pada ketinggian terbang, untuk lebih tahan terhadap gangguan sinyal. Rusia juga melengkapi drone Shahed dengan hulu ledak lebih kuat.
Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan akan mengubah pasukan drone menjadi unit militer terpisah. "Tidak mengherankan jika AS meniru desain ini," kata seorang analis.
Rusia mungkin yang paling agresif menggunakan drone. Mereka mengerahkankan drone dalam jumlah besar untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara lawan. Sepanjang 2024 saja, Rusia menghujani Ukraina dengan ratusan drone.
"Drone-drone itu menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur penting dan menjadi masalah besar bagi negara-negara yang membela Ukraina," kata Dara Massiot, peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace.
Jika konflik Israel/AS versus Iran berlanjut, drone Shahed akan memainkan peran penting. Namun, menurut Liu dari RSIS, drone Shahed tidak bisa digunakan untuk meruntuhkan bangunan. Drone sekali serang ini efektif merusak infrastruktur utilitas dan energi.
Iran menggunakannya untuk itu. Ini terlihat dari serangan terhadap kilang minyak terbesar Arab Saudi, yang memaksa kilang itu menghentikan produksinya.
Drone Shahed itu berisik, lambat, dan mudah ditembak. AS dan Israel bisa menggunakan sistem pertahanan udara patriot, atau mengerahan jet tempur. Namun, menargetkan drone dengan cara seperti itu membutuhkan banyak sumber daya, mahal, dan menguras rudal pencegat.
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
