REQNews.com

Seberapa Besar Dampak Penutupan Selat Hormuz Gegara Perang Israel-AS dan Iran Terhadap RI? Ini Kata Bahlil

News

Tuesday, 03 March 2026 - 19:08

Bahlil LahadaliaBahlil Lahadalia

JAKARTA, REQNews - Penutupan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz akibat eskalasi perang antara Israel–Amerika Serikat dan Iran mengguncang distribusi energi global. Pemerintah Indonesia mengakui situasi ini membawa konsekuensi serius, meski paparan langsung terhadap impor nasional disebut masih terbatas.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, konflik yang memanas tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga mengancam pasokan energi dunia.

“Kita tahu bahwa Selat Hormuz sekarang lagi ditutup akibat dinamika perang antara Israel-Amerika dan Iran. Dan ini dampaknya tidak hanya pada dampak perang, tapi juga berdampak pada energi global,” ujar Bahlil dalam konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube Kementerian ESDM, Selasa 3 Maret 2026.

Menurut Bahlil, sekitar 20,1 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz. Angka itu menjadikan perairan tersebut sebagai salah satu arteri utama suplai energi dunia.

“Kita tahu bahwa di Selat Hormuz itu melewati kurang lebih sekitar 20,1 juta barel per day. Jadi Selat Hormuz itu suplai global itu 20,1 juta barel per day. Di mana 20,1 juta barel per day itu, termasuk di dalamnya adalah Indonesia melakukan impor crude (minyak mentah) dari Middle East (Timur Tengah) yang melewati Selat Hormuz,” katanya.

Pemerintah kemudian melakukan penelusuran rinci terhadap struktur impor minyak mentah nasional. Hasilnya, ketergantungan Indonesia terhadap jalur tersebut tidak dominan.

“Namun, dengan berbagai macam dinamika yang ada, alhamdulillah ternyata setelah tadi kita detailing, dari total impor crude kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20 sampai 25 persen,” ungkap Bahlil.

Ia menjelaskan, pasokan minyak mentah Indonesia telah terdiversifikasi ke sejumlah kawasan. Selain Timur Tengah, Indonesia mengimpor dari Afrika, termasuk Angola, serta dari Amerika dan Brasil.

“Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brazil. Jadi secara keseluruhan impor kita untuk crude, 20 sampai 25 persen dari Selat Hormuz, selebihnya tidak dari sana,” ujarnya.

Meski porsi impor melalui Selat Hormuz relatif terbatas, pemerintah tetap mewaspadai dampak lanjutan. Ketidakpastian konflik dinilai menyulitkan perencanaan energi nasional.

“Apa strategi harus kita lakukan agar kita tidak terperangkap dengan dinamika global? Jujur saya katakan bahwa dari intelijen kami, dari kajian kami, dari komunikasi kami dengan berbagai negara di dunia, sekalipun informasi disampaikan bahwa ketegangan ini akan selesai dalam waktu ada yang mengatakan lima hari, ada yang mengatakan empat minggu, tapi keyakinan kami setelah kami melakukan kajian, ini tidak akan bisa kita ramalkan kapan selesai,” tandasnya.

Redaktur : Desi

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.