REQNews.com

Di mana Ayatollah Mojtaba Khamenei Setelah Dilantik? Mengapa Belum Bersuara

News

Wednesday, 11 March 2026 - 13:21

Foto: Pars TodayFoto: Pars Today

Tehran, REQNews.com -- Dua hari setelah dilantik sebagai pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Sayyed Mojtaba Khamenei belum mengeluarkan pernyataan. Beredar spekulasi dia terluka akibat serangan bom Israel/AS.

Bagi pers Barat, Mojtaba Khamenei bukan sosok populer di masyarakat Iran. Ia putra almarhum Ayatollah Ali Khamenei, dan menjalanan kantor pemimpin tertinggi saat sang ayah menjadi pemimpin tertinggi Iran, tapi sebagian besar warga Iran tak mengenalnya.

CNA menulis seorang pembawa acara televisi pemerintah tampaknya mengkonfirmasi rumor yang menggambarkan Mojtaba Khamenei sebagai 'janbaz' -- kata dalam Bahasa Persia yang artinya veteran terluka dalam Perang Ramadhan. Namun, tidak satu pun media Barat yang mengkonfirmasi kebenaran kabar ini.

Mojtaba Khamenei terluka saat sang ayah tewas dalam pemboman Israel/AS dan menjalani perawatan intensif. Spekulasi ini menjelaskan kebungkamannya sejak Majelis Pakar yang beranggotakan 88 ulama menguumkan pengangkatannya sebagai pemimpin tertinggi.

Kekuasaan paling nyata saat ini dipegang Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan beyt, atau kantor pemimpin tertinggi yang mengoperasikan sistem pengaruh paralel di seluruh birokrasi.

Sumber-sumber senior Iran mengatakan IRGC memaksakan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran karena lebih mudah dikendalikan ketimbang ayahnya. IRGC mengabaikan kekhawatiran para pragmatis dan butuh pemimpin garis keras.

Kehadiran Mojtaba Khameni akan membuat IRGC lebih agresif di luar negeri, dan berpotensi mengubah Iran menjadi negara militer dengan legitimasi keagamaan yang tipis, melemahkan basis dukungan dan mengurangi ruang untuk mengatasi ancaman yang kompleks.

Indikasi ke arah itu sudah terlihat ketika Persideh Masoud Pezeshkian meminta maaf kepada negara-negara Teluk atas serangan Iran. IRGC tampak ingin menjadikan perang ini untuk menghukum negara-negara Teluk yang bekerja sama dengan AS.

Alex Vatanka, peneliti senior di Middle East Institute di Washington DC, mengatakan Mojtaba Khamenei berutang posisi kepda IRGC. Jadi Mojtaba Khamenei tidak akan sehebat ayahnya.


Mengenang Khomeini

Secara konstitusional, pemilihan pemimpin tertinggi berada di tangan Majelis Pakar. Dalam dua pemilihan pemimpin tertinggi sejak Revolusi 1979, pemilihan dipengaruhi saran tokoh berpengaruh.

Ali Akbar Hashemi Rafsanjani, politisi berpengaruh Iran, punya cerita soal ini. Tahun 1989 Ayatollah Rohulloh Khomeini meninggal. Rafsanjani mengatakan kepada majelis pakar bahwa Khomeini membisikan nama Ali Khamenei kepadanya di ranjang kematiannya.

Kali ini, penentu dalam pemilihan pemimpin tertinggi Iran adalah IRGC. Majelis Pakar hanya mengumumkan. IRGC menggunakan argumen bahwa perang membutuhkan proses yang cepat dan emmilih kandidat yang menentang AS.

Majelis Pakar tidak mengambil keputusan di aula mereka di Qom, kota suci Muslih Shiah di Iran, karena dibom. Tidak ada yang tahu di mana Majelis Pakar mengambil keputusan memilih Mojtaba Khamenei. Beberapa anggota Majelis Pakar juga tidak hadir dalam pemilihan itu meski diberi tahu.

Jadi, tidak jelas apakah yang tidak hadir mendukung Mojtaba Khamenei. Yang pasti, dari seuruh yang hadir, dua per tiga mendukung Mojtaba.


Suksesi Turun-temurun

Sekelompok mullah tidak suka suksesi turun-temurun karena sistem itu akan mengasingkan pendukung sistem pemerintahan. Namun, IRGC mengamcam mereka yang tidak menghendaki Mojtaba Khamenei, dan menghubungi anggota Majelis Pakar yang cenderung keberatan dengan pemilihan ini.

Indikasi adanya keberatan terlihat pada pengumuman Mojtaba Khamenei. Awlnya, Majelis Pakar akan mengumumkan pengangkatan Mojtaba Khamenei Minggu pagi, tapi harus ditunda sampai larut malam karena penentangan masih berlanjut.

Sebagai kepala kantor pemimpin tertinggi selama bertahun-tahun di bawah ayahnya, Mojtaba Khamenei telah membangun hubungan yang sangat dekat dengan Garda Revolusi, khususnya para komandan tingkat kedua yang telah menggantikan para jenderal tertinggi yang tewas dalam perang, kata salah satu pejabat.

Akibatnya, kata mantan pejabat reformis itu, akan ada kebijakan luar negeri dan dalam negeri yang bergerak ke arah yang lebih radikal dengan Garda Revolusi akhirnya mendapatkan apa yang mereka cari selama bertahun-tahun - kendali penuh.

Redaktur : Teguh Setiawan

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.