Efek Domino Konflik Timur Tengah, Giliran Vietnam dan Myanmar Pangkas Penerbangan
HANOI, REQNews – Dampak konflik di Timur Tengah mulai terasa luas hingga ke sektor penerbangan Asia Tenggara. Lonjakan harga bahan bakar jet dan gangguan pasokan memaksa sejumlah maskapai mengurangi operasionalnya.
Di Vietnam, maskapai nasional Vietnam Airlines mengambil langkah efisiensi dengan memangkas frekuensi penerbangan domestik. Kebijakan ini mulai berlaku pada awal April seiring meningkatnya tekanan biaya operasional.
Dalam keterangannya, maskapai tersebut memastikan penyesuaian dilakukan pada sejumlah rute tertentu, tanpa mengganggu layanan utama.
“Vietnam Airlines berencana menghentikan sementara operasi di beberapa rute mulai 1 April,” bunyi pernyataan maskapai tersebut, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu 25 Maret 2026.
Secara keseluruhan, sekitar 23 penerbangan domestik per pekan dihentikan sementara. Langkah ini diambil akibat terbatasnya pasokan avtur jenis Jet A-1 yang dipicu oleh konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Ketegangan yang meluas hingga kawasan Teluk turut mendorong lonjakan harga minyak dunia, sekaligus menimbulkan kekhawatiran akan krisis pasokan energi di berbagai negara.
Meski melakukan pengurangan, Vietnam Airlines tetap mempertahankan rute domestik utama dan penerbangan internasional. Maskapai juga mulai mengalokasikan anggaran bahan bakar lebih besar untuk menjaga operasional rute luar negeri.
Pemerintah Vietnam turut bergerak dengan menjajaki pasokan energi dari sejumlah negara seperti Qatar, Kuwait, Aljazair, dan Jepang. Selain itu, kerja sama dengan Rusia di sektor minyak dan gas juga mulai diperkuat.
Situasi serupa juga terjadi di Myanmar. Maskapai di negara tersebut mengumumkan pembatalan sejumlah penerbangan domestik karena kondisi operasional yang semakin sulit.
Krisis ini sebelumnya lebih dulu menghantam Filipina. Bahkan, negara tersebut terpaksa menghentikan sebagian operasional penerbangan akibat kekurangan bahan bakar jet.
Presiden Ferdinand Marcos Jr menyebut situasi tersebut sebagai ancaman nyata bagi sektor penerbangan nasional.
“Pengandangan pesawat merupakan kemungkinan yang nyata,” ujarnya.
Keterbatasan pasokan juga diperparah oleh penolakan sejumlah negara untuk mengisi bahan bakar pesawat maskapai Filipina. Akibatnya, operator penerbangan harus membawa cadangan bahan bakar ekstra untuk perjalanan pulang-pergi, yang berdampak langsung pada efisiensi dan biaya operasional.
Redaktur : Desi
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.