Gelombang Protes 'No Kings' Guncang AS dan Menyebar ke Dunia, Jutaan Demonstran Kritik Trump
WASHINGTON, REQNews - Gelombang aksi unjuk rasa kembali meluas di berbagai wilayah Amerika Serikat. Ribuan massa turun ke jalan dalam gerakan bertajuk “No Kings” yang menyasar kebijakan Presiden Donald Trump.
Aksi yang berlangsung pada akhir pekan lalu itu digelar secara serentak di lebih dari 3.000 kota dan desa. Penyelenggara bahkan mengklaim jumlah peserta mencapai sekitar 8 juta orang, menjadikannya salah satu demonstrasi terbesar dalam beberapa waktu terakhir.
Gerakan ini merupakan lanjutan dari aksi serupa yang telah berlangsung sejak 2025. Penyelenggara menyebut demonstrasi kali ini sebagai upaya menyuarakan ketidakpuasan terhadap arah pemerintahan saat ini.
Sejumlah organisasi besar terlibat dalam mobilisasi massa, di antaranya American Civil Liberties Union (ACLU), National Action Network, serta United Federation of Teachers. Mereka menyebutkan sekitar 3.200 aksi direncanakan berlangsung pada Sabtu 28 Maret 2026.
Demonstrasi terjadi di berbagai wilayah, mulai dari kota besar hingga komunitas kecil. Para peserta terlihat membawa spanduk, menyanyikan lagu, dan meneriakkan slogan sebagai bentuk protes. Menariknya, sebagian aksi juga berlangsung di wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis Partai Republik.
Isu yang diangkat dalam aksi ini cukup beragam. Penyelenggara menyatakan tidak ada satu tuntutan utama, melainkan kumpulan kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah, mulai dari penegakan hukum imigrasi hingga isu keamanan dan konflik luar negeri.
Aksi besar tercatat terjadi di sejumlah kota seperti San Francisco dan Los Angeles. Sementara di negara bagian Texas, demonstrasi berlangsung di Dallas, Arlington, dan Fort Worth. Di Boynton Beach, aparat setempat menggambarkan suasana aksi sebagai "sangat antusias."
Tak hanya di dalam negeri, gaung protes juga menjalar ke luar Amerika Serikat. Aksi serupa dilaporkan berlangsung di Rome dan London.
Hingga kini, pihak Gedung Putih belum memberikan tanggapan terbaru terkait aksi tersebut. Namun sebelumnya, sejumlah pihak dari kalangan pemerintahan dan Partai Republik pernah menyebut demonstrasi ini sebagai bentuk aksi yang "benci Amerika."
Aksi besar ini berlangsung di tengah merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Trump. Berdasarkan jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis 24 Maret 2026, tingkat persetujuan terhadap Trump berada di angka 36 persen—terendah sejak ia kembali menjabat pada Januari 2026.
Penurunan tersebut dikaitkan dengan sejumlah faktor, termasuk kebijakan ekonomi yang dinilai berdampak pada meningkatnya biaya hidup, serta konflik luar negeri yang melibatkan AS.
Di tengah situasi tersebut, wacana pemakzulan terhadap Trump disebut semakin sering diperbincangkan di kalangan publik, meski hingga kini belum ada langkah resmi dari Kongres Amerika Serikat.
Redaktur : Desi
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
