Berbeda dengan Klaim Trump, Intelijen AS Sebut Iran Masih Punya Ribuan Drone dan Rudal Aktif
WASHNGTON, REQNews - Penilaian terbaru dari intelijen Amerika Serikat menunjukkan bahwa kemampuan militer Iran belum sepenuhnya melemah, meskipun serangan udara terus dilakukan oleh AS dan Israel dalam beberapa waktu terakhir.
Laporan tersebut mengungkap bahwa sekitar setengah dari sistem peluncur rudal Iran masih dapat difungsikan. Selain itu, negara tersebut juga diyakini masih menyimpan ribuan drone, termasuk jenis kamikaze, yang belum terdampak signifikan oleh serangan yang berlangsung.
Temuan ini menjadi sorotan karena berbeda dengan pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang sebelumnya menyebut kemampuan militer Iran telah mengalami penurunan drastis.
Mengutip sumber pejabat AS yang mengetahui laporan intelijen tersebut, kemampuan Iran untuk melancarkan serangan masih tergolong tinggi.
"Mereka masih sangat siap untuk menimbulkan kekacauan besar di seluruh kawasan," kata seorang sumber pejabat, dikutip Jumat 3 April 2026.
Selain itu, intelijen AS juga mencatat bahwa sejumlah rudal jelajah pertahanan pantai milik Iran tidak mengalami kerusakan berarti. Kondisi ini dinilai penting karena sistem tersebut berperan strategis dalam mengamankan wilayah perairan, termasuk jalur vital seperti Selat Hormuz.
Kemampuan tersebut memungkinkan Iran tetap memiliki daya tekan terhadap aktivitas pelayaran internasional di kawasan tersebut.
Dalam analisisnya, sebagian fasilitas peluncur rudal yang masih tercatat aktif kemungkinan berada dalam kondisi terkubur akibat serangan udara, namun belum sepenuhnya hancur. Hal ini membuat kapasitas tempur Iran belum sepenuhnya dapat dinetralisir.
Sementara itu, sistem pertahanan udara di wilayah pesisir Iran, khususnya di sekitar Selat Hormuz, tampaknya tidak menjadi fokus utama dalam kampanye serangan udara. Meski begitu, beberapa target maritim tetap dilaporkan telah diserang.
Perbedaan penilaian ini kontras dengan klaim yang disampaikan Trump dalam pidatonya pada Rabu 1 April 2026. Saat itu, ia menyatakan bahwa kemampuan Iran dalam mengoperasikan rudal dan drone telah menurun drastis, bahkan menyebut sebagian besar fasilitas peluncuran telah dihancurkan.
Di sisi lain, Komando Pusat AS atau United States Central Command melaporkan bahwa sejak dimulainya Operasi Epic Fury pada 28 Februari, pasukan AS telah menggempur lebih dari 12.300 target di Iran.
Laporan intelijen terbaru ini memberikan gambaran yang lebih rinci mengenai kondisi riil kekuatan militer Iran, sekaligus menunjukkan bahwa potensi ancaman di kawasan masih belum sepenuhnya mereda.
Redaktur : Desi
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
