Bagaimana Video Lego Iran Menangkan Perang Narasi Melawan Trump
Tehran, REQNews.com -- Satu video lego Iran berjudul Vengeance for all memenangkan perang narasi melawan Presiden AS Donald Trump, ditonton 150 ribu kali di akun X tapi akun Media Explosive -- kelompok pembuat video yang berbasis di Iran -- di YouTube dihapus.
Video lego itu dimulai dengan kepala suku Indian, penduduk asli AS, menunggang kuda di lanskap tandus bermandikan cahaya. Video berganti cepat antaa berbagai orang yang menjadi korban pemerintah AS, warga kulit hitam AS yang dirantai hingga penyintas kompleks penjara Abu Ghraib yang terkenal di Irak.
Setelah itu video beralih ke tentara Iran yang menempelkan spanduk berbunyi; Untuk orang-orang kulit hitam yang dicuri." Berikutnya, muncul spanduk 'Untuk orang-orang Hiroshima dan Nagasaki."
Spanduk lainnya berbunyi; "Untuk mengenang korban penerbangan Iran Air 655," mengacu pada pesawat penumpang yang dietmbak jatuh oleh rudal AS tahun 1988, menewaskan seluruh dari 290 penumpang.
'Untuk mengenang perjuangan kebebasan Rachel Corrie," merujuk pada aktivis AS yang tewas dibuldoser Israel di Gaza tahun 2023. Korban perang dan pelanggaran AS di Afghanistan, Vietnam, dan Irak, serta anak-anak Pulau Epstein. Semua pesan itu ditempelkan pada rudal yang kemudian ditembakan.
Video lego itu berakhir dengan patung raksasa Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu ruboh, dan kalimat tebal, putih, dan huruf kapital, berbunyi; Satu Pembalasan Untuk Semua.
Video 29 Maret ini adalah salah satu dari banyak video yang dirilis oleh Explosive Media, di antara beberapa kelompok yang berbasis di Iran yang telah menggunakan figur dan balok Lego yang dikenal rumah tangga di seluruh dunia untuk menciptakan tren media sosial viral, memperkuat narasi Theran di tengah perang melawan AS dan Israel.
Video yang menggambarkan banyak korban agresi AS dan kejahatan domestik telah ditonton hampir 150.000 kali di X. Akun YouTube Explosive Media baru-baru ini dihapus oleh platform berbagi video milik Google tersebut.
Namun, kelompok yang berbasis di Teheran ini, yang menggunakan lirik dan irama rap khusus untuk mengejek Trump – seringkali menggunakan kata-kata presiden AS sendiri untuk menuduhnya munafik dan memihak kepentingan Israel daripada Amerika – tidak menyerah.
Seorang perwakilan Explosive Media, yang meminta anonimitas, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa saluran YouTube mereka ditutup dengan alasan mempromosikan kekerasan – dan bahwa mereka yakin animasi balok seperti Lego sama sekali tidak mengandung kekerasan.
“Ada rasa frustrasi, tetapi tidak ada kejutan – cerita ini bukan hal baru,” katanya. “Kita tahu betul bagaimana Barat membungkus kebenaran dalam keheningan dan mencoba membungkam setiap suara yang mengungkapkannya.”
Simbolisme yang mendalam
Video-video tersebut beragam, mulai dari kisah-kisah suram yang merefleksikan sejarah Muslim Syiah hingga video musik bergaya rap yang ceria, semuanya digerakkan oleh figur dan lingkungan seperti balok Lego.
Juru bicara Explosive Media mengatakan bahwa warna hijau dan merah yang ditampilkan dalam animasi tersebut bersifat simbolis, karena menginterpretasikan tradisi di mana hijau mewakili Husain, cucu Nabi Muhammad dan perjuangannya untuk keadilan melawan penindasan. Merah melambangkan penindas.
“Itu sebenarnya salah satu animasi favorit tim kami. Terutama momen ketika helm perang diletakkan di atas rudal dan drone – itu benar-benar brilian,” katanya.
Video-video lain menggunakan frasa seperti “rezim Epstein”, “Pecundang” dan menunjukkan pendukung presiden AS mengenakan topi merah bata dengan tulisan MAGA – gerakan Make America Great Again milik Trump – di atasnya.
Mereka menggambarkan janji Trump untuk menjaga AS agar tidak terlibat dalam perang baru dan membantu warga Amerika kelas pekerja biasa, kemudian menggunakan kata-kata presiden sendiri untuk menuduhnya mengkhianati komitmen dan malah memprioritaskan tuntutan Israel.
"Pecundang adalah salah satu kreasi terbaik kami,” kata juru bicara kelompok tersebut. Itulah cara Trump sering menyebut lawan-lawannya. “Jadi kami membalikkannya – dan menunjukkan bahwa, pada akhirnya, dialah pecundang terbesar dari semuanya.”
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
