Ini Isi Manifesto Penembak Acara Makan Malam Donald Trump: Pedofil, Pemerkosa, Pengkhianat
Washington, REQNews.com -- Cole Allen, pria bersenjata yang menerobos keamanan acara makan malam Presiden AS Donald Trump bersama wartawan Gedung Putih, menulis manifesto 1.052 kata sebelum beraksi.
Manifesto itu dikirim Cole Allen, guru berusia 31 tahun dari California, ke kerabatnya sepuluh menit sebelum serangan ke acara di Washington Hilton. New York Post yang kali pertama menerbitkan teks manifesto itu.
Allen menyebut dua 'alias' dalam manifesto itu, yaitu coldForce dan Friendly Assassin. Bersanama nama lengkapnya, kedua alias itu disebut menjadi satu menjadi; Cole 'coldForce 'Friendly Assassin' Allen.
Dalam manifesto itu Allen menggambarkan diri sebagai warga AS setengah hitam setengah putih, dan membingkai tindakannya sebagai tanggung jawab pribadi untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah.
"Saya tidak lagi bersedia membiarkan seorang pedofil, pemerkosa, dan pengkhianat, menodai tangan asya dengan kejahatan," tulis Allen.
Ia menyebut pejabat pemerintah Trump, kecuali direktur FBI Kash Patel, sebagai target prioritas dari peringkat tertinggi hingga terendah.
Meski Allan mengatakan bertujuan meminimalkan korban di antara personel keamanan, staf hotel, dan tamu dengan menggunakan peluru karet, ia mengakui tetap akan menghabisi hampir semua orang untuk mencapai target jika benar-benar diperlukan. Alasan Allen, mereka yang menghadiri acara itu terlibat secara sukarela.
Berulang kali merujuk pada keyakinan Kristen-nya, Allenmenanggapi kritik yang diantisipasi terhadap tindakannya dengan daftar “bantahan.”
“Berdiam diri hanya berlaku ketika Anda sendiri yang tertindas. Saya bukan orang yang diperkosa di kamp penahanan. Saya bukan nelayan yang dieksekusi tanpa pengadilan. Saya bukan anak sekolah yang diledakkan atau anak yang kelaparan atau gadis remaja yang dilecehkan oleh banyak penjahat di pemerintahan ini,” tulis Allen.
Ia tampaknya merujuk pada keluhan, termasuk serangan terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Venezuela, serangan bom AS ke sekolah perempuan Iran, penegakan hukum imigrasi, dan kasus Jeffrey Epstein.
Presiden AS Donald Trump menggambarkan tersangka sebagai 'orang sakit' yang "membenci orang Kristen, dan menolak tuduhan tersebut selama wawancara dengan 60 Minutes CBS.
Allen, seorang tutor yang berbasis di Torrance dan lulusan teknik mesin yang juga bekerja sebagai pengembang game, tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya dan diyakini bertindak sendirian, menurut para penyelidik.
Para pejabat mengatakan dia telah membeli senjata api secara legal, berlatih secara teratur di lapangan tembak, dan melakukan perjalanan dari Los Angeles ke Washington dengan kereta api sebelum menginap di Hilton.
Menurut laporan, saudara perempuannya mengatakan kepada para penyelidik bahwa dia pernah berbicara tentang melakukan "sesuatu" untuk memperbaiki dunia.
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.