REQNews.com

FBI Buru Mantan Intel AU AS yang Membelot ke Iran, Hadiah Rp3,5 Miliar Disiapkan

News

Sabtu, 16 Mei 2026 - 23:00

Monica Witt, mantan personel Angkatan Udara (AU) AS yang membelot ke Iran (Foto:Istimewa)Monica Witt, mantan personel Angkatan Udara (AU) AS yang membelot ke Iran (Foto:Istimewa)

WASHINGTON, REQNews – Nama Monica Witt kembali mencuat di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Mantan personel Angkatan Udara Amerika Serikat itu kini masih menjadi salah satu buronan penting FBI setelah dituduh membelot dan membantu aktivitas intelijen Teheran.

Untuk mempercepat pencarian, Biro Penyelidikan Federal Amerika Serikat (FBI) menawarkan hadiah sebesar 200.000 dolar AS atau sekitar Rp3,5 miliar bagi siapa saja yang dapat memberikan informasi mengenai keberadaan Witt.

FBI meyakini perempuan yang pernah bertugas di bidang kontra-intelijen tersebut masih aktif mendukung kepentingan militer Iran hingga saat ini.

Monica Witt sebelumnya dikenal sebagai perwira kontra-intelijen di Kantor Investigasi Khusus Angkatan Udara AS. Dalam kurun waktu 2003 hingga 2008, ia pernah ditempatkan di kawasan Timur Tengah dan memiliki akses terhadap sejumlah informasi sensitif terkait operasi intelijen Amerika.

Menurut otoritas AS, Witt meninggalkan Amerika Serikat dan membelot ke Iran pada 2013. Sejak saat itu, keberadaannya terus menjadi perhatian aparat keamanan AS.

Kasus tersebut kembali disorot FBI di tengah dinamika geopolitik yang memanas di Timur Tengah serta meningkatnya kekhawatiran Washington terhadap aktivitas Iran di kawasan.

“FBI tidak akan lupa dan yakin, pada masa kritis dalam sejarah Iran ini, ada seseorang yang mengetahui sesuatu tentang keberadaannya,” ujar pejabat kontra-intelijen FBI Daniel Wierzbicki, dikutip dari Anadolu, Sabtu 16 Mei 2026.

Kasus Witt sebenarnya sudah menjadi perhatian publik sejak 2019 ketika Departemen Kehakiman AS secara resmi menuduh Iran merekrutnya untuk menjalankan misi pengumpulan informasi intelijen rahasia milik Amerika Serikat.

Dalam dakwaan yang diungkap saat itu, Witt disebut tidak hanya memberikan informasi sensitif, tetapi juga membantu Iran mengidentifikasi seorang perwira intelijen AS yang dianggap dapat mengganggu operasi Teheran.

Asisten Jaksa Agung AS kala itu, John Demers, menyatakan Witt diduga bekerja sama dengan sejumlah warga Iran dalam periode Januari 2012 hingga Mei 2015.

Selama rentang waktu tersebut, ia dituduh menyerahkan dokumen dan data pertahanan nasional AS yang dinilai dapat merugikan kepentingan Amerika sekaligus menguntungkan Iran.

Dokumen dakwaan juga menyebut pemerintah Iran memberikan berbagai fasilitas untuk mendukung aktivitas Witt, mulai dari tempat tinggal hingga perangkat komputer yang digunakan dalam operasi intelijen.

Kasus ini menjadi salah satu contoh paling serius mengenai ancaman pembelotan personel intelijen AS dalam beberapa tahun terakhir. Hingga kini, otoritas Amerika masih terus memburu Witt sambil memperluas jaringan informasi guna menemukan jejak mantan pejabat kontra-intelijen tersebut.

Redaktur : Desi

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.