Tekanan Tak Mempan, AS Pertimbangkan Operasi Militer terhadap Kuba
WASHINGTON, REQNews - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Kuba kembali memanas. Setelah berbulan-bulan meningkatkan tekanan ekonomi dan embargo energi terhadap Havana, pemerintahan Presiden Donald Trump kini disebut mulai membuka kemungkinan langkah yang jauh lebih agresif: operasi militer.
Di Washington, sejumlah pejabat pemerintahan AS dikabarkan mulai membahas berbagai skenario tindakan terhadap negara kepulauan Karibia tersebut. Dari serangan udara terbatas hingga invasi skala penuh, semua opsi disebut mulai dipertimbangkan.
“Gagasan awal tentang Kuba adalah bahwa kepemimpinannya lemah dan kombinasi penegakan sanksi yang ditingkatkan, terutama blokade minyak, serta kemenangan militer AS yang jelas di Venezuela dan Iran, akan menakut-nakuti Kuba untuk membuat kesepakatan,” kata seorang pejabat AS kepada The New York Times, dikutip Selasa 19 Mei 2026.
Namun kalkulasi Washington disebut tidak berjalan sesuai rencana. Pemerintah Kuba dinilai tetap bertahan meski menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.
“Jadi sekarang (opsi) tindakan militer ada di meja, dengan cara yang sebelumnya tidak ada,” lanjut pejabat tersebut.
Laporan itu mengungkap, Komando Selatan Amerika Serikat telah memulai berbagai simulasi dan perencanaan operasional dalam beberapa pekan terakhir. Pentagon disebut tidak hanya mempertimbangkan operasi terbatas untuk menangkap tokoh tertentu, tetapi juga kemungkinan serangan besar yang bertujuan menggulingkan pemerintahan Kuba.
Skenario yang dibahas berkisar dari serangan udara tunggal untuk memaksa pemerintah menyerah hingga operasi darat penuh.
Di tengah memanasnya situasi, Direktur Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat atau CIA, John Ratcliffe, diketahui melakukan kunjungan ke Havana pada Kamis pekan lalu. Ia memimpin delegasi AS dalam pertemuan dengan perwakilan Kementerian Dalam Negeri Kuba.
Kunjungan itu terjadi saat hubungan kedua negara berada dalam fase paling tegang dalam beberapa tahun terakhir.
The New York Times juga melaporkan pejabat senior AS sedang mempertimbangkan kemungkinan menangkap mantan pemimpin Kuba, Raul Castro, seperti operasi yang sebelumnya dilakukan terhadap Venezuela.
Ketegangan mulai meningkat sejak Januari lalu ketika Presiden AS, Donald Trump, menandatangani instruksi presiden yang mengenakan biaya impor terhadap negara-negara pemasok minyak ke Kuba.
Washington juga menetapkan keadaan darurat dengan alasan Kuba dianggap memberikan ancaman terhadap keamanan nasional AS.
Kebijakan tersebut memperparah krisis bahan bakar minyak di Kuba. Dampaknya meluas ke berbagai sektor, mulai dari pembangkit listrik, transportasi, produksi pangan, layanan kesehatan, hingga pendidikan.
Di Havana, warga kini harus menghadapi pemadaman listrik yang lebih sering dan kelangkaan bahan bakar yang semakin akut, sementara ancaman konflik militer mulai membayangi kawasan Karibia.
Redaktur : Desi
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
