Krisis Air Mengintai AS, AI Disebut Jadi Solusi dan Ancaman
JAKARTA, REQnews - Meski termasuk negara maju dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi, Amerika Serikat masih menghadapi persoalan serius terkait ketersediaan air bersih. Berbagai wilayah di negara tersebut masih mengalami masalah akses air yang layak dan infrastruktur distribusi yang belum memadai.
Laporan yang dimuat Nature mengungkapkan bahwa banyak rumah tangga di AS masih berhadapan dengan kualitas air yang buruk serta fasilitas perpipaan yang tidak lengkap. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan air bersih masih menjadi tantangan meski negara tersebut memiliki sumber daya yang besar.
Temuan itu diperkuat oleh penelitian yang terbit pada 2023 dengan memanfaatkan data American Community Survey dan Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA). Studi tersebut mencatat sebanyak 489.836 rumah tangga belum memiliki instalasi perpipaan yang memadai. Selain itu, terdapat 1.165 sistem air komunitas yang melakukan pelanggaran serius terhadap Undang-Undang Air Minum Aman serta 9.457 pemegang izin Undang-Undang Air Bersih yang dinilai tidak patuh secara signifikan.
Di sisi lain, data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai target akses air minum dan sanitasi untuk semua pada 2030 memperlihatkan capaian yang relatif tinggi di AS. PBB memperkirakan 99,2 persen penduduk memiliki akses berkelanjutan terhadap air minum, sementara 88,9 persen lainnya telah memperoleh akses terhadap layanan sanitasi.
Untuk membantu mengatasi tantangan tersebut, pemerintah AS mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini digunakan untuk mengolah dan menganalisis berbagai data, mulai dari prediksi cuaca, ketersediaan sumber air, pola konsumsi masyarakat, hingga proyeksi pertumbuhan penduduk.
Melalui kemampuan analisis tersebut, AI dapat membantu pemerintah daerah merancang pengelolaan air yang lebih efisien, terutama di kawasan yang mengalami tekanan ketersediaan air. Sistem ini juga mampu mengoptimalkan distribusi air dengan menyesuaikan jadwal pemompaan, aliran, dan tekanan jaringan sesuai kebutuhan aktual, sehingga pemborosan dapat ditekan dan kinerja sistem menjadi lebih efektif.
Namun, penggunaan AI juga menimbulkan tantangan baru. Di balik manfaatnya dalam pengelolaan sumber daya air, teknologi ini membutuhkan infrastruktur pusat data yang mengonsumsi air dalam jumlah besar untuk proses pendinginan.
Kebutuhan air tersebut diperkirakan terus meningkat seiring berkembangnya teknologi AI. Sebagai gambaran, pusat data berkapasitas 1 megawatt (MW) dapat menghabiskan hingga 25,5 juta liter air setiap tahun. Bahkan, kebutuhan air tawar seluruh pusat data di Amerika Serikat diproyeksikan mencapai 150 hingga 180 miliar liter pada 2028.
Redaktur : Giftson Ramos Daniel
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
