PBB: Israel Menyasar dan Membunuh Anak-anak Palestina di Gaza dan Tepi Barat
Den Haag, REQNews.com -- Komisi Penyelidik Perserikatan Bangsa Bangsa (UNCI) mengatakan Israel menargetkan dan membunuh anak-anak Palestina dalam perang genosida di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki.
"Bukti menunjukan anak-anak Palestina sengaja dijadikan sasaran untuk dibunuh oleh pasukan keamanan Israel, kata Srinivasan Muralidhar, ketua UNCI. "Bahkan setelah gencatan senjata Oktober 2025, anak-anak terus dibunuh dan dilukai, dan Israel mengabaikan gencatan senjata dan perlindungan kepada ana-anak Palestina berdasarkan hukum internasional."
Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada hari Selasa 23 Juni, Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB tentang Wilayah Palestina yang Diduduki -- termasuk Yerusalem Timur dan Israel --meneliti pelanggaran Israel terhadap anak-anak Palestina sejak dimulainya perang genosida Israel di Gaza pada Oktober 2023.
Laporan tersebut menemukan sekitar 30 persen orang yang tewas di Gaza sejak awal perang adalah anak-anak. Laporan itu mencatat penargetan Israel terhadap pusat perawatan neonatal dan maternitas selama perang di Gaza secara langsung membahayakan masa depan reproduksi Palestina dan kelangsungan hidup bayi baru lahir — menyebabkan peningkatan keguguran, cacat lahir, dan kerentanan jangka panjang.
Blokade bantuan Israel di Gaza tahun lalu juga berdampak buruk pada anak-anak Palestina, menyebabkan kematian akibat kelaparan dan peningkatan penyakit karena tingkat imunisasi menurun.
Komisi tersebut dibentuk pada 27 Mei 2021 selama sesi khusus Dewan Hak Asasi Manusia PBB. Komisi ini dibentuk untuk menyelidiki dugaan pelanggaran hukum internasional dan pelanggaran hak asasi manusia serta meneliti “akar penyebab” konflik antara Israel dan Palestina.
Dalam laporan September 2025, komisi tersebut menyimpulkan bahwa ada alasan yang masuk akal untuk menentukan bahwa Israel telah melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza.
Komisi itu menyatakan bahwa Israel melakukan empat dari lima tindakan terlarang yang mendefinisikan genosida berdasarkan Konvensi Genosida 1948, termasuk pembunuhan, menyebabkan cedera fisik dan mental yang serius, menciptakan kondisi untuk menghancurkan suatu kelompok, dan menerapkan tindakan untuk mencegah kelompok tersebut berkembang biak.
Lebih dari 50.000 anak telah tewas atau terluka oleh pasukan Israel sejak Israel memulai perang di Gaza, menurut badan anak-anak PBB (UNICEF). Badan itu mencatat bahwa rata-rata satu anak Palestina tewas setiap hari selama lebih dari delapan bulan di Gaza, sejak apa yang disebut "gencatan senjata" di Gaza mulai berlaku Oktober lalu.
Pada hari Senin, PBB juga memperingatkan bahwa anak-anak semakin "tidak terlindungi" karena kelompok kemanusiaan dan pembela hak-hak anak terpaksa mengurangi operasi mereka di wilayah Palestina.
Selain tewas atau terluka, laporan tersebut mengatakan bahwa anak-anak Palestina telah ditangkap dan disiksa di penjara-penjara Israel dan bentuk-bentuk perlakuan buruk lainnya, termasuk pelecehan seksual.
Warga Palestina di seluruh wilayah pendudukan, termasuk anak-anak, telah menghadapi peningkatan penangkapan dan penahanan sejak Israel melancarkan perang di Gaza.
Lebih dari setengah anak-anak Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel pada akhir tahun lalu ditahan tanpa dakwaan atau pengadilan, kata sebuah kelompok hak asasi manusia Palestina, Defense for Children International-Palestine (DCIP), pada bulan Maret.
Laporan PBB juga mencatat bahwa, selain Gaza, pasukan Israel telah menghancurkan panti asuhan dan fasilitas pendidikan di Tepi Barat yang diduduki, yang telah memengaruhi perawatan dan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak-anak Palestina.
Komisi PBB mengatakan telah mengidentifikasi unit-unit militer Israel yang bertanggung jawab atas penargetan anak-anak dan menyerukan Israel untuk menghentikan kekerasan terhadap anak-anak Palestina.
“Bahkan jika bom dan senjata berhenti berbunyi di Gaza dan Tepi Barat, anak-anak Palestina tidak akan pulih begitu saja dalam semalam,” kata Muralidhar.
“Perlindungan, perawatan, dan kelangsungan hidup anak-anak Palestina tidak dapat dipisahkan dari hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri,” tambahnya.
“Dengan menargetkan anak-anak, Israel menyerang kemampuan rakyat Palestina untuk eksis dan menentukan masa depan mereka.”
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
