Profil Jenderal Zainal Arifin, Pemenang Hati Rakyat di Pilkada Kalimantan Utara
JAKARTA, REQnews - Pilkada 2020 menjadi ajang sejumlah jenderal polisi untuk memuaskan dahaga kekuasaannya. Namun dari 4 jenderal yang berlaga, hanya satu jenderal yang berhasil memenangkan hati rakyat dan bisa menikmati gurihnya kursi kepala daerah.
Asal tahu saja, ada empat jenderal yang ikut dalam konstelasi Pilkada tahun ini. Mereka terdiri dari tiga bintang dua (inspektur jenderal/Irjen) dan satu jenderal bintang satu (brigadir jenderal polisi) Polri.
Siapa saja jenderal yang kalah suara di Pilkada 2020 ini? Mereka adalah Irjen Purn Mahfud Arifin berpasangan dengan Mujiaman. Keduanya maju sebagai calon wali kotaa di Kota Surabaya, Jawa Timur.
Mahfud sebelumnya pernah menjadi Kapolda di Maluku Utara dan Kalimantan Selatan. Jabatan terakhir Mahfud Arifin adalah Kapolda Jatim dan Analis Kebijakan Utama bidang Sabhara Baharkam Polri.
Kemudian ada Irjen Purn Syafril Nursal. Dia mantan Kapolda Sulawesi Tengah. Syafril Nursal adalah Calon Wakil Gubernur pada Pilkada serentak 2020 di Provinsi Jambi.
Dia berpasangan dengan Fachrori Umar yang merupakan gubernur petahana.
Selanjutnya ada nama Irjen Purn Fakhrizal adalah Kapolda Sumatera Barat (2016-2019) dan Kapolda Kalimantan Tengah (2015-2016). Fakhrizal (57) putra Minang asli, lahir di Bukittingi, Sumatera Barat, pada 26 April 1963.
Pasangan Fakhrizal-Genius Umar diusung oleh Partai Golkar, Nasdem, dan PKB.
Jenderal Pemenang
Kemudian ada nama Brigjen Pol (Purn) Drs Zainal Arifin Paliwang SH adalah mantan Analis Kebijakan Utama bidang Pidum Bareskrim Polri. Zainal berhasil memenangkan hati rakyat Kalimantan Utara di Pilkada 2020.
Ia berpasangan dengan Yansen Tipa Padan diusung oleh Partai Gerindra, PDIP, PPP, dan Partai Demokrat.
Zainal sebelumnya berdinas sebagai Penyidik Tindak Pidana Utama Tingkat II Badan Reserse Kriminal Polri. Asal tahu saja, ia baru mendapatkan pangkat jenderal bintang satunya pada Februari lalu.
Kenaikan pangkat itu bertepatan dengan mutasinya ke Bareskrim Mabes Polri. Sebelumnya, ia berpangkat Komisaris Besar dan menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Utara.
Sementara untuk aturan pengunduran diri anggota Polri diatur dalam Pasal 7 poin t Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota Menjadi UU.
Poin itu menyebutkan calon gubernur-calon wakil gubernur, calon bupati-calon wakil bupati, dan calon wali kota-calon wakil wali kota, menyatakan secara tertulis pengunduran diri sebagai anggota Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan Pegawai Negeri Sipil serta Kepala Desa atau sebutan lain sejak ditetapkan sebagai pasangan calon peserta pemilihan.
Profil Zainal
Sebelum menjabat sebagai Penyidik Tindak Pidana Utama Tingkat II di Bareskrim Mabes Polri sejak Februari 2020 lalu, Zainal dikenal sebagai Wakil Kepala Kepolisian Daerah Kaltara sejak Polda itu dibentuk pada 2018.
Ia juga pernah menjabat sebagai Direktur Direktorat Polisi Air Baharkam Polri (Ditpolair) Polda Riau. Pria kelahiran Desember 1962 ini akan memasuki masa pensiun pada Desember 2020. Sesuai aturan perundangan, usia pensiun polisi adalah 58 tahun.
Sebenarnya, sejak tahun lalu, nama Zainal sudah cukup ramai disebut-sebut bakal jadi calon yang akan maju di Pilkada. Sejak menjabat Wakapolda Kaltara, sudah menyatakan bersedia maju jika masyarakat menginginkannya.
Zainal menyatakan siap mundur sebagai anggota polisi dan mengajukan pensiun dini. "Kalau banyak masyarakat yang inginkan saya maju (Pilgub), maka saya pensiun," ujarnya seperti dikutip dari Antara, Kamis 14 November 2019.
Menikahi Hj. Rahmawati, Zainal dikaruniai 3 orang anak. Yakni Nofandi yang saat ini tercatat sebagai Anggota Polri di Samarinda, Raspidandi yang merupakan pengusaha, dan paling bungsu adalah Zarah yang masih kuliah di Binus BSD Tangerang Banten.
Alumni Akademi Kepolisian tahun lulus 1986 ini pernah beberapa kali bertugas di daerah seperti Sulawesi, Jogjakarta, Jawa Barat, NTB, Bali, Riau dan Aceh. Ia pun punya pengalaman menarik saat dinas Aceh, ketika masih dalam kondisi konflik hingga menjelang referendum.
Cerita menariknya adalah dirinya harus menghadapi berbagai karakter penduduk lokal yang menginginkan kemerdekaan, lalu dihadapkan dengan gesekan dengan aparat. Bahkan, sempat beberapa kali suasana mencekam dan diberondong dengan peluru dan lainnya.
Redaktur : Ryan Virgiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.