'Nelangsa Setengah Mati,' Puisi Ciptaan Habibie untuk Melepas Kepergian Ainun
JAKARTA, REQnews - Hasri Ainun Besari biasa dipanggil Ainun Habibie, merupakan istri dari Presiden Indonesia ke-3 yaitu BJ. Habibie. Perempuan kelahiran Semarang, 11 Agustus 1937 itu berprofesi sebagai seorang dokter.
Namun, Ainun wafat di Jerman pada 22 Mei 2010, setelah menjalani sembilan kali operasi karena penyakit kanker ovarium. Ainun meninggal dunia setelah melewati masa kritis sekitar 1 hari di mana hidupnya ditopang oleh alat dan kemudian dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
Atas dedikasi beliau yang sangat tinggi bagi dunia kesehatan, khususnya dalam penanganan penyakit mata di Indonesia. Maka Pemerintah Provinsi Gorontalo pada tahun 2013 berinisiasi membangun dan meresmikan Rumah Sakit Provinsi dr. Hasri Ainun Habibie di Limboto, Kabupaten Gorontalo.
Tentu, kepergian Ainun membawa duka mendalam bagi BJ. Habibie. Kisah romantis cinta keduanya pun diangkat dalam beberapa film. Lantas, Presiden ke-3 Indonesia itu membuat puisi untuk melepas kepergian istri tercinta, "Nelangsa Setengah Mati."
"Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan, kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku dan sekarang kembali tiada.Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan calon bidadari surgaku.
-Bacharuddin Jusuf Habibie-"
Redaktur : Hastina
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
