REQNews.com

Profil Gatot Nurmantyo, Jenderal yang Diduga Fitnah TNI Disusupi PKI

Profil

Tuesday, 28 September 2021 - 11:45

Panglima TNI Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo (Foto: Istimewa)Panglima TNI Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Sosok Mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo kembali mencuat belakangan ini. Pasalnya Gatot Nurmantyo menuding tubuh TNI diduga disusupi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Hal itu kata Gatot dibuktikan dengan hilangnya patung Soeharto hingga 7 Pahlawan Revolusi dalam diorama sejarah penumpasan G30S/PKI di Museum Dharma Bhakti.

Bagaimana sosok Gatot Nurmantyo ?

Gatot Nurmantyo sendiri bukan seseorang yang biasa di Indonesia. Ia sudah malang melintang di dunia militer di Indonesia hingga akhirnya pensiun.

Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, merupakan alumni Akademi Militer pada tahun 1982. Pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah ini tumbuh dan besar dari keluarga yang berlatar belakang militer. Ibunya berasal dari Solo sementara ayahnya yang berasal dari Cilapap adalah seorang pejuang kemerdekaan yang pernah menjadi tentara pelajar. 

Awalnya, Gatot tak pernah bercita-cita jadi tentara. Ia hampir mendaftarkan diri ke Universitas Gadjah Mada. Namun mimpinya menjadi seorang arsitek diurungkannya lantaran Gatot teringat pesan ibunda bahwa biaya kuliah di UGM cukup menguras kas keluarga.

Dinas pertamanya sebagai Danton MO 81 Kiban Yonif 315 Dam II/Slw. Selama beberapa tahun, Gatot dikirim ke Papua sebagai Komandan Kodim, antara lain Dandim 1707 Merauke, kemudian Dandim 1701 Jayapura.

Jabatan teritorial yang pernah dijabat oleh Gatot yakni Komandan Korem Suryakencana dan Panglima Kodam Brawijaya.

Karir Gatot Nurmantyo selama bertugas di militer terbilang sangat cemerlang. Ia menjadi Gubernur Akmil pada tahun 2010. Kemudian pada tahun 2014, Gatot resmi menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat.

Selain itu, Gatot juga adalah ketua umum PB FORKI periode 2014-2018.

Puncak kariernya yaitu menjadi Panglima TNI pada usia 55 tahun menggantikan Jenderal Moeldoko yang memasuki masa purna bakti.

Ia menjadi Panglima TNI ke-16 yang dilantik oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta pada Rabu 8 Agustus 2015.

Sesuai dengan Keppres Nomor 49/TNI2015 tertanggal 6 Juli 2015, Gatot Nurmantyo menggantikan Jenderal Moeldoko yang memasuki masa purna bakti.

 

Gatot memiliki keinginan keras untuk menjadi anggota Kopassus. Ia mendaftar beberapa kali, namun gagal. Hingga akhirnya setelah ia menjabat sebagai KSAD, ia memanggil Danjen Kopassus Mayjen YNI Agus Sutomo dan menyampaikan maksudnya untuk mendaftar pendidikan Kopassus, namun Agus Sutomo menyampaikan bahwa ia tidak perlu mengikuti pendidikan Kopassus dan akan diberikan Brevet Kehormatan, tapi Gatot menolak, ia bersikeras ingin mendapatkan baret merah melalui jalur normal.

Setelah masuk ke pendidikan Kopassus, Gatot melalui semua prosedur normal, mulai dari pendaftaran, ujian, hingga penyematan brevet komando dan baret di pantai Cilacap. Hal ini ia dapatkan tentunya dengan sejumlah latihan fisik yang keras. Setelah dilantik Gatot naik helikopter menuju Kartosuro lalu menuju ke makam kedua orang tuanya sambil memberi hormat. Gatot adalah anggota Kopassus tertua yang dilantik pada saat berusia 55 tahun.

Gatot Nurmantyo resmi diberhentikan secara hormat dari jabatannya sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia pada Jumat 8 Desember 2017. Pemberhentian ini ditandai dengan dilantiknya Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai Panglima TNI oleh Presiden Joko Widodo.

Pada tanggal 31 Maret 2018, Gatot memutuskan untuk pensiun dari dunia militer.

Pemberhentian Gatot saat itu menuai kontroversi. Gatot menyatakan bahwa pergantian jabatannya sebagai Panglima TNI berkaitan dengan instruksinya untuk memutarkan film G30S/PKI.

Seperti diketahui, Mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo, baru-baru ini menyebut sampai saat ini paham komunis dan PKI masih ada meski selalu dibantah oleh berbagai pihak.


Dirinya pun mengungkap adanya indikasi penyusupan paham komunis ke dalam tubuh TNI. Hal itu diungkapkan saat acara webinar yang berjudul 'TNI Vs PKI' pada Minggu kemarin, 26 September 2021. Awalnya Gatot menceritakan terkait sejarah pemberontakan yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia.


Dia menyebut pemberontakan PKI sebetulnya sudah dimulai pada 1948 atau tiga tahun setelah Indonesia merdeka. Dia menyebut di usia Indonesia yang semuda itu, PKI di Madiun sudah berupaya mengambil alih Indonesia. Menurut Gatot, setelah ditumpas PKI ternyata muncul kembali pada Pemilu 1955. Dia menyebut kala itu PKI menjadi partai terbesar kedua setelah PNI.

Upaya pemberontakan PKI, kata dia, menjadi yang terbesar pada peristiwa G30SPKI. Dia menyebut saat itu ada 7 pahlawan revolusi yang gugur akibat peristiwa tersebut. Atas beberapa sejarah itu, Gatot lantas menyinggung terkait masih ada-tidaknya PKI saat ini. Dia menegaskan komunisme saat ini di Indonesia masih ada meski selalu dibantah berbagai pihak.


Gatot menyatakan bukti komunis masih ada di Indonesia, terkhusus di institusi TNI dapat dilihat dari hilangnya sejumlah barang di Museum Dharma Bhakti, Markas Kostrad, Gambir, Jakarta Pusat (Jakpus). Barang-barang yang dihilangkan adalah yang berkaitan dengan peristiwa penumpasan komunisme di Tanah Air pada era Orde Lama.

 

 

Redaktur : Tia Heriskha

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.