Diperingati Setiap 28 Oktober, Begini Momen Hari Sumpah Pemuda yang Jarang Diketahui
JAKARTA, REQnews - Hari Sumpah Pemuda diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Peringatan ini terbentuk dari persatuan pemuda Indonesia dalam Kongres Pemuda II yang dilaksanakan pada 28 Oktober 1928.
Momen ini menjadi perjalanan Indonesia dalam menyambut Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Para pemuda menyatukan pikiran dan hatinya untuk menyamakan pemikiran menghadapi penjajah dan bersatu memukul mundur.
Dalam kongres tersebut melahirkan ikrar yang diberi nama Sumpah Pemuda, dan menjadi momen bersejarah yang penting bagi kebangkitan pemuda Indonesia. Peringatan tersebut dimulai sejak 1958, melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959.
Dikutip dari situs resmi Museum Sumpah Pemuda, pada Kamis 28 Oktober 2021, bahwa momen Sumpah Pemuda adalah suatu ikrar pemuda-pemudi nusantara yang mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Kongres tersebut dilakukan sebanyak dua kali, di tiga gedung berbeda. Perlu diketahui, bahwa kongres tersebut dicetuskan oleh Persatuan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI).
Ikrar tersebut merupakan hasil putusan dalam rapat yang dihadiri organisasi pemuda, seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Pemoeda Indonesia, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Sekar Rukun, Jong Ambon, dan Pemuda Kaum Betawi.
Diketahui, rapat pertama itu digelar di Gedung Katholike Jongelingen Bond (KJB), Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada 27 Oktober 1928. Salah seorang pemuda bernama Soegondo, dalam sambutannya berharap agar kongres tersebut dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda di nusantara.
Kemudian Muhammad Yamin menguraikan arti serta hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya terdapat lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.
Rapat kedua diadakan di Gedung ost-Java Bioscoop pada Minggu, 28 Oktober 1928, yang membahas masalah pendidikan. Ada dua narasumber yang hadair dalam pertemuan tersebut, seperti Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro.
Menurut keduanya, anak memang harus mendapat pendidikan kebangsaan. Perlu ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan rumah, serta dididik secara demokratis.
Pada rapat berikutnya di hari yang sama di Gedung Indonesische Clubhuis Kramat, Soenario menjelaskan terkait pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Dalam pertemuan tersebut, Ramelan mengemukakan bahwa gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional.
Hal itu dilekukan untuk mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, dan hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan. Sebelum rapat selesai, Wage Rudolf Supratman memperdengarkan lagu Indonesia Raya, kemudian ditutup dengan rumusan hasil kongres.
Pemuda yang hadir pun mengucapkan sumpah setia yang berbunyi:
Pertama.
Kami Poetra dan Poetri Indonesia,
Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe,
Tanah Indonesia.
Kedoea.
Kami Poetra dan Poetri Indonesia,
Mengakoe Berbangsa Jang Satoe,
Bangsa Indonesia.
Ketiga.
Kami Poetra dan Poetri Indonesia,
Mendjoendjorng Bahasa Persatoean,
Bahasa Indonesia.
Redaktur : Hastina
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.