Tragedi 24 November, 305 Jamaah Tewas Ditembak Saat Shalat Jumat 27 di antarnya Anak-anak
JAKARTA, REQNews - Sudah lima tahun berlalu, namun tragedi tersebut masih terus membekas, tepatnya pada 24 November 2017, sebuah bom mengoyak sebuah masjid di wilayah Sinai utara Mesir saat teroris menembaki mereka yang sedang menyelesaikan shalat Jumat di masjid al-Rawdah.
Serangan itu menewaskan 305 orang—termasuk 27 anak-anak—dan melukai 120 lainnya, yang merupakan serangan teroris paling mematikan dalam sejarah negara itu.
Serangan berdarah itu merupakan titik balik yang kejam bagi negara. Sementara sejak 2013 serangan teroris sering terjadi di negara itu, namun biasanya menyasar masjid jarang terjadi di Mesir.
Teroris sebelumnya menyerang gereja-gereja Kristen Koptik dan pasukan keamanan, tetapi umumnya menghindari rumah ibadah Muslim.
Masjid ini sebagian besar terdiri dari Muslim Sufi, sebuah sekte mistik Islam yang berjuang untuk hubungan pribadi langsung dengan Tuhan. Mereka dibenci oleh ISIS.
Serangan itu terjadi hanya beberapa hari sebelum maulid nabi Muhammad, ketika masjid itu penuh sesak dengan jemaah. Tiba-tiba, 25 hingga 30 militan berhenti dengan empat kendaraan off-road. Mereka menembak jamaah dari pintu utama masjid dan 12 jendela besar. Menambah kengerian, beberapa bom dan granat berpeluncur roket meledak saat jamaah mencoba melarikan diri. Orang-orang bersenjata itu membakar mobil yang diparkir di luar masjid dan menembak ambulans yang datang untuk menghalangi mereka melarikan diri.
Meskipun tidak ada kelompok yang bertanggung jawab, bukti menunjuk ke ISIS. Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan di majalah Negara Islam, seorang komandan di Sinai menguraikan kebencian kelompok tersebut terhadap kaum Sufi dan mengidentifikasi al-Rawda sebagai target.
Dalam pidato yang diberikan di televisi, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi bersumpah bahwa pemerintah akan menanggapinya dengan "kekerasan". Keamanan telah menjadi alasan utama bagi para pendukungnya untuk mendukungnya, dan dengan kemungkinan pemilihan ulang di depan mata, pembalasan diharapkan terjadi.
Beberapa jam setelah serangan itu, militer Mesir melancarkan serangan udara ke sasaran di daerah pegunungan di sekitar kota, dan tiga hari berkabung nasional diumumkan.
Redaktur : Desi
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.