REQNews.com

Kisah Cinta DN Aidit dan Bolletje, Wanita Ningrat Mangkunegaran

Profil

Thursday, 01 December 2022 - 14:30

DN Aidit dan SoetantiDN Aidit dan Soetanti

JAKARTA, REQnews - Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit, sang singa podium yang dikenal karena pidatonya berapi-api sebagai pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI), tak berdaya ketika ia terpikat oleh pesona mahasiswi kedokteran bernama Soetanti, atau nama lainnya Bolletje.

Dalam bahasa Belanda, Bolletje berarti bundar. Soetanti dikenal berperawakan agak gemuk dan pipinya bulat.

Berawal dari tahun 1946, Aidit yang kala itu berposisi sebagai redaktur majalah Bintang Merah di Solo, kedatangan tamu dua mahasiswi kedokteran asal Klaten, salah satunya adalah Soetanti.

Kedatangan Soetanti, adalah untuk mengundang Aidit memberi kuliah politik dan keorganisasian. Kala itu Aidit menjabat sebagai Ketua Departemen Agitasi dan Propaganda PKI.

Sementara Bolletje, aktif sebagai anggota Sarekat Mahasiswa Indonesia. Karena kegiataan tersebut, Soetanti jadi sering bertemu dengan Aidit, karena ia harus bolak-balik Klaten-Solo.

Intensitas pertemuan yang tak terhindarkan, membuat keduanya akrab, dan tumbuhlah benih-benih cinta.

Tentu saja kisah percintaan keduanya terbilang unik, jika ditinjau dari latar belakang keluarga.

Soetanti adalah perempuan keturunan Bupati Tuban, artinya masih berdarah biru alias ningrat Mangkunegaran.

Sedangkan Aidit, hanyalah anak mantri kehutanan di Belitung. Ia tidak berdarah biru, namun namanya cukup terkenal karena posisi yang mentereng di PKI.

Namun, kepandaian Aidit itulah yang menarik bagi Soetanti. Orasi-orasi tentang Marxisme, Komunisme, kisah-kisah revolusi Rusia membuat Bolletje terpana.

Meski demikian, keduanya tidak pernah menjalin hubungan asmara, sampai pada pernikahan mereka.

Pada suatu hari seusai berorasi, Aidit dengan tekad baja, memberanikan diri untuk memberi sepucuk surat ke Soetanti.

Surat itu ditujuan untuk ayahnya Soetanti, yakni Moedigdo, yang menjabat kepala polisi Semarang sekaligus anggota Partai Sosialis Indonesia.

Isi surat itu adalah sebuah lamaran. Moedigdo kemudian menyetujui, Aidit dan Soetanti menikah tahun 1948 secara hukum Islam.

Pernikahan berjalan tanpa pesta di rumah sesepuh PKI Solo yang bertindak sebagai penghulu, yakni KH Raden Dasuki. Prosesi itu hanya dihadiri oleh keluarga intim saja.

Dari pernikahan itu, Aidit dan Bolletje dikaruniai lima anak.

Redaktur : Ryan Virgiawan

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.