Profil Harun Masiku, Buronan Kakap KPK yang 'Licin' Tak Kunjung Tertangkap
JAKARTA, REQNews - Harun Masiku merupakan buronan kakap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sudah selama tiga tahun diburu dan tak kunjung tertangkap.
Masiku Harun Masiku lahir di Jakarta pada 21 Maret 1971. Dia merupakan anak dari pasangan Johannes Masiku dan Elisabeth Liling, yang keduanya sudah meninggal dunia.
Ayah Harun Masiku ternyata seorang mantan hakim di Makassar, Sulawesi Selatan.
Harun Masiku menikah dengan seorang perempuan bernama Hilda yang tinggal di Perumahan Bajeng Permai, Gowa, Sulawesi Selatan.Istri Harun Masiku mengaku tidak mengetahui keberadaan suaminya.
Harun Masiku bersekolah di Watapone, Bone, Sulawesi Selatan dari jenjang SD hingga SMA. Lulus SMA, Harun Masiku meneruskan pendidikan sarjananya di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar pada 1989.
Harun Masiku melanjutkan pendidikannya di jurusan Hukum Ekonomi Internasional di University of Warwick, Inggris.
Saat itu, Harun Masiku juga meraih British Chevening Award 1998 dan menjadi Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI).
Harun Masiku juga aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).
Harun Masiku mengawali kariernya sebagai pengacara di perusahaan Dimhart and Association Law Firm, Jakarta pada 1994-1995, lalu menjadi pengacara korporat di PT Indosat, Tbk hingga 1998.
Harun Masiku juga pernah menjadi Senior Partner Johannes Masiku & Associates Law Offices, Jakarta, pada 2003.
Pada 2009, Harun Masiku juga pernah menjadi Tim Sukses Pemenangan Pilpres pasangan calon Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono, sekaligus Timses Partai Demokrat di Sulawesi Tengah pada Pemilu 2009.Serta menjadi tenaga ahli anggota Komisi III DPR pada 2011.
Harun Masiku mencalonkan diri sebagi Calon Legislatif DPR dari PDIP di Dapil Sumatera Selatan I di Pemilu 2019, namun kalah.
Bahkan, Harun Masiku menempati urutan keenam perolehan suara terbanyak.
Kemudiam, kursi di dapil tersebut kosong lantaran Nazaruddin Kiemas meninggal dunia, dan Harun Masiku diputuskan PDIP sebagai Anggota Pergantian Antar Waktu (PAW), sementara suara terbanyak kedua ditempati oleh Riezky Aprilia.
Politikus PDIP itu menghilang saat KPK melakukan operasi tangkap tangan alias OTT pada 8 Januari 2020. Operasi senyap ini terkait dugaan suap di Komisi Pemilihan Umum atau KPU.
Harun Masiku diduga menyogok komisioner KPU Wahyu Setiawan agar bisa duduk di DPR menggantikan Nazarudin Kiemas yang meninggal. Sebab, KPU kekeh melantik Riezky Aprilia sebagai pengganti sah Nazaruddin menurut UU Pemilu.
Redaktur : Desi
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.