Korban Pesawat Lion Air-Ethiopian Airline Risih 'Diteror' Kantor Pengacara Amerika Serikat
JAKARTA, REQnews - Beberapa hari setelah Ethiopian Airlines yang berangkat dari Kenya jatuh dan menewaskan 157 orang pada 10 Maret 2019 lalu, keluarga korban banyak 'diteror' perwakilan firma-firma hukum dari Amerika Serikat.
Dilansir dari Reuters, Kamis 26 Desember 2019, orang-orang ini muncul tanpa diundang di pemakaman serta di rumah duka yang dipenuhi keluarga dan kerabat yang kehilangan. Pun mereka langsung menelepon dan menawarkan jasa hukum, meninggalkan brosur, dan, bahkan pada sebuah kasus, menawarkan uang pada suami korban agar mau bertemu.
Bahkan seorang perempuan menawarkan konseling serta mengatakan sedang membuat sebuah kelompok dukungan emosional, padahal ia bekerja untuk kantor pengacara. Reuters sempat mewawancarai 37 orang keluarga korban, atau perwakilannya, dan menemukan bahwa 31 orang mengeluhkan pendekatan yang tidak elok dari beberapa orang yang menyatakan mewakili beberapa firma hukum Amerika Serikat.
Dalam beberapa kasus, perilaku yang ditunjukan orang-orang ini dapat dikatakan ilegal atau tidak etis jika merujuk pada hukum Amerika Serikat. Aturan etik ini juga melarang pengacara untuk memberikan sesuatu yang bernilai untuk meminta kasus pada calon klien.
Belum lagi ada aturan hukum federal Amerika Serikat yang melarang pengacara untuk menghubungi keluarga korban dalam jangka waktu 45 hari. Namun menurut beberapa ahli hukum, aturan tersebut hanya berlaku pada kasus-kasus penerbangan Amerika Serikat saja.
Enam firma hukum diidentifikasi melakukan pendekatan agresif ini setalah pesawat Boeing ini jatuh di Ethiopia, yakni: Ribbeck Law Chartered dan Global Aviation Law Group (GALG) dari Chicago; The Witherspoon Law Group dan Ramji Law Group dari Texas; serta Wheeler & Franks Law Firm PC dan Eaves Law Firm dari Mississippi.
Witherspoon, Wheeler, Eaves, dan Ramji membantah tuduhan-tuduhan ini. Ribbeck dan GALG, di sisi lain, tidak memberikan komentar. Boeing menyatakan bahwa ia “bekerja sama penuh dengan otoritas penyidik” dan menekankan bahwa keamanan adalah prioritas utamanya.
Boeing mengakui adanya kegagalan untuk memberikan pilot informasi lebih detil tentang perangkat lunak 737 MAX dalam kecelakaan Lion Air di Indonesia yang menewaskan 189 orang serta di Ethiopia 5 bulan kemudian.
Boeing, di lain sisi, mengaku tidak ada yang salah dalam pengembangan pesawat itu sendiri. 737 MAX, sejauh ini, masih dilarang untuk terbang. Boeing sendiri menolak berkomentar terkait gugatan yang diajukan padanya. (Yohan Misero)
Redaktur : Safwan Hadi Rachman
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
