Viral 6 Identitas Pembunuh Legendaris Jack The Ripper, Nomor 5 Gak Nyangka
JAKARTA, REQnews- Siapa yang tak kenal Jack the Ripper? Ya, pembunuh legendaris asal Inggris yang identitasnya masih belum terungkap hingga saat ini.
Dari sekian banyak pembunuhan yang ia lakukan tersorot sati kasus yakni pembunuhan pada pada lima wanita di distrik Whitecepel, London selama musim gugur 1888. Meski kasusnya telah ditutup pada tahun 1892, hal ini tidak menyurutkan rasa penasaran para sejarawan, kriminolog dan bahkan para detektif untuk mengungkapkan identitas Jack the Ripper yang sesungguhnya.
Perjalanan yang cukup panjang untuk mengungkapkan identitas asli dari seorang pembunuh berantai misterius yang setidaknya menghasilkan enam teori yang berbeda-beda. Apa saja teori tersebut?
1.Pangeran Albert Victor

Sebuah kabar mengejudkan menarik warga dunia saat itu. Menariknya adalah identitas asli sang pembantai adalah Pangeran Albert Victor, putra Raja Edward VII sekaligus cucu laki-laki dari Ratu Victoria. Sang pangeran yang akrab disebut Eddy oleh keluarganya adalah pewaris tahta kedua ketika dia meninggal karena influenza pada usia 28 tahun.
Pada tahun 1970, Thomas Stowell yang seorang dokter di Inggris menerbitkan sebuah artikel yang menyiratkan bahwa Eddy telah melakukan pembunuhan saat mengalami kegilaan yang disebabkan oleh infeksi Sifilis (infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri spiroset).
Kabar ini pun menimbulkan banyak kontrofesi. Beberapa teori konsporasi bermunculan membahas fakta baru penyelidikan teori yang mengatakan seorang pria yang akan menjadi raja memiliki sisi gelap sebagai seorang pembunuh berantai.
2. Montague John Druit

Setelah melakukan pembunuhan terkahir yang dilakukan oleh Jack, 9 November 1988 Ingris dikejutkan dengan ditemukannya mayat laki-laki yang diduga bernama Montague John Druitt.
Montague John Druitt ditemukan tewas mengambang di sungai Thames dengan kondisi saku yang terisi penuh dengan batu. Peneliti menemukan bahwa penyebab kematian adalah bunuh diri, dan tubuh korban telah berada di dasar sungai selama beberapa minggu.
Druitt diduga mengalami beberapa masalah pribadi selama tahun 1880-an, termasuk kasus pemecataannya dari sebuah sekolah asrama. Beberapa penulis mengatakan bahwa dia dipecat karena terbukti sebagai seorang homoseksual.
Meskipun belum ada bukti konkret mengenai keterlibatan dirinya dengan kasus pembunuhan Ripper, namun fakta bahwa pembunuhan berantai tersebut berakhir setelah kematiannya. Hal tersebut menurut detektif London Melville Leslie dirasa cukup untuk menjadikannya (Druitt) sebagai salah satu tersangka.
3. Carl Feigenbaum

Seorang mantan anggota skuad pembunuhan di Bedforshire bernama Trevor Marriot, berasumsi bahwa Jack adalah seorang pelaut Jerman bernama Carl Feigenbaum yang dieksekusi karena melakukan pembunuhan terhadap seorang wanita di New York tahun 1984.
Marriot menunjukkan fakta bahwa dua dermaga pedagang yang beroperasi di dekat Whitecepel. Mereka diketahui sering singgah di rumah bordil yang berada tidak jauh dari dermaga tersebut.
Marriot juga menyamakan target pembunuhan Jack yang rata-rata adalah wanita tuna susila. Tak hanya itu, Marriot melihat adanya kesamaan antara kejahatan yang dilakukan Jack the Ripper dengan pembunuhan Feigenbaum pada Julianna Hoffman.
4. Walter Sickert

Walter Sickert adalah seorang pelukis impresionis terkenal yang dihormati karena turut andil pada kemajuan seni di Inggris. Pada awal 1990-an, Ia menciptakan sebuah karya menggemparkan dengan penggambaran sugestif tentang wanita tuna susila tanpa busana di samping seorang pria yang berpakaian lengkap.
Salah satu lukisannya juga menggambarkan tangan manusia yang sedang mencekik wanita tersebut. Sickert mengaku memiliki ketertarikan khusus pada kasus Ripper, terlebih dia menyewa sebuah ruangan yang diyakini sebagai tempat yang pernah dihuni oleh Jack the Ripper. Hal tersebut mengilhaminya untuk melukis "kamar tidur Jack the Ripper" sekitar tahun 1907.
Seorang novelis cerita kriminal Patricia Cornwell menjadi pendukung utama asumsi tersebut dengan menerbitkan bukunya yang berjudul "Portrait of a Killer: Jack the Rippera Case Closed" tahun 2002. Dalam bukunya Patricia menjelaskan bagaimana dirinya dan tim investigasi modern melakukan pembuktian dengan teknik forensik adanya keterlibatan Sicker dalam kasus tersebut.
Patricia melakukan pembuktian dengan menganalisis lukisannya dan membandingkan DNA dengan sampel DNA yang ditemukan pada surat-surat yang ditandatangani Jack the Ripper selama pembantaian.
5. Jill the Ripper

Selama bertahun-tahun tak terungkap konspirasi gila pun bermunculan sejumlah orang termasuk Sir Arthur Conan Doyle (Sherlock Holmes) telah bermain-main dengan gagasan bahwa Jack the Riper bukanlah pria yang haus akan darah, tetapi secara harfiah karena femme fatal (istilah yang digunakan untuk menyebut para wanita yang memiliki daya pikat tinggi).
Mary Pearcey adalah satu-satunya tersangka wanita yang diduga sebagai Jack the Ripper. Pearcey adalah seorang wanita Inggris yang dieksekusi karena melakukan pembunuhan pada istri dan anak kekasihnya dengan pisau ukiran.
Tahun 2006, studi yang dilakukan oleh Ian Findlay, seorang ilmuan Australia menemukan hasil yang luar biasa pada pembenaran mengenai teori Jill the Ripper.
Findlay melakukan perjalanan ke London untuk mengumpulkan sampel air liur dari beberapa surat Jack the Ripper yang dianggap memiliki kredibelitas. Findlay kemudian membuat profil parsial dari ekstraksi sampel DNA yng diambilnya. Temuan sementara menunjukkan bahwa pengirim surat kemungkinan besar adalah seorang wanita.
6. Robert Mann

Mei Trow seorang sejarawan Ingiris mengumumkan bahwa dengan bantuan forensik modern dan pakar psikologis, dirinya berhasil mengungkap identitas Jack the Ripper. Trow mengarah pada sosok Robert Mann, seorang petugas kamar mayat di mana para korban dibawa masuk dan diperiksa.
Jack the Ripper diduga memiliki pengetahuan mengenai anatomi tubuh, hal ini terlihat dari terampilnya Jack saat melakukan mutilasi pada korban.
Kriminolog modern juga menduga bahwa Jack memiliki kesulitan untuk mengenyam pendidikan dan status sosial ekonomi yang rendah. Sesuatu yang sangat sesuai dengan profil Mann yang menghabiskan masa kecilnya dalam keluarga miskin dan saat dia dewasa selalu menangani mayat setiap hari.
Menurut hasil pemeriksaan atas kasus Polly Nichols (kasus pembunuhan jack yang pertama), Mann melakukan tindakan yang tidak dibutuhkan dengan membuka baju korban. Trow memandang bahwa Mann melakukannya dengan tujuan untuk mengagumi hasil karyanya sendiri.
Redaktur : Rani
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
