Jejak Sukanto Tanoto, Dari Skandal Pajak Asian Agri hingga Beli Istana Kerajaan Jerman
JAKARTA, REQnews - Nama Sukanto Tanoto akhir-akhir ini menjadi perbincangan di Tanah Air. Taipan yang pernah dikaitkan dalam skandal kasus pajak Asian Agri tersebut viral lantaran membeli aset properti bekas istana Raja Ludwig di Munchen, Jerman.
Kabar itu dihembuskan laporan OpenLux yang dikutip REQnews pada Minggu 14 Februari 2021. Dalam laporan itu, salah satu orang terkaya di Indonesia tersebut membeli gedung itu seharga 350 juta euro atau hampir setara dengan Rp 6 triliun.

Sebagai informasi, proyek OpenLux digalang oleh OCCRP, platform jurnalisme investigatif untuk mengungkap kasus-kasus kejahatan terorganisir dan korupsi skala besar, yang dalam proyek ini berkolaborasi dengan media Prancis Le Monde dan media Jerman Süddeutsche Zeitung (SZ).
Untuk membeli properti dengan harga fantastis ini, pastinya dibutuhkan kekayaan yang besar juga. Pertanyaannya berapa kekayaan dari Sukanto Tanoto?
Mengutip Forbes, hingga 12 Februari 2021 lalu kekayaan pemilik Royal Golden Eagle tersebut mencapai 1,4 miliar dolar AS atau setara Rp 19,6 triliun (kurs Rp 14.000/US$). Nilai ini lebih rendah dari akhir tahun lalu yang mencapai 1,6 miliar dolar AS.
Dengan kekayaannya ini, Sukanto berada pada posisi ke 22 dari orang terkaya di Indonesia di akhir 2020 dan menjadi orang terkaya 1.730 di dunia.
Kekayaan Sukanto Tanoto diketahui berasal dari bisnis yang dijalankannya saat ini yakni bidang kayu lapis, pulp dan kertas, minyak kelapa sawit, hingga pengembangan sumber daya energi di bawah perusahaan RGE.
Dia memulai bisnisnya sebagai pemasok suku cadang dan pengusaha di bidang jasa konstruksi untuk industri minyak pada 1967. RGE kemudian berkembang dari perusahaan nasional dan go global. Saat ini, kelompok usahanya telah menjadi bisnis terkemuka di bidang industri pulp dan kertas (APRIL dan Asia Symbol), minyak kelapa sawit (Asian Agri dan Apical), serat viscose (Sateri dan Asia Pacific Rayon), selulosa khusus (Bracell).
Selain itu dia juga majalankan bisnis sumber daya energi (Pacific Oil & Gas),dengan wilayah operasi di Indonesia, Tiongkok, Brasil, Spanyol, dan kantor-kantor pemasaran di banyak negara di seluruh dunia.
Bahkan, Bracell menjadi salah satu produsen selulosa khusus terbesar di dunia. Selulosa khusus ini digunakan dalam segala hal mulai dari tisu bayi hingga es krim.
Saat ini Sukanto Tanoto dikenal sebagai filantropis melalui organisasi bernama Tanoto Foundation yang didirikannya bersama sang istri pada tahun 1981 yang berfokus pada bidang pendidikan.
Pada 2018 lalu dia menjadi sponsor Asian Games 2018 dan berkomitmen merenovasi perpustakaan dari 31 medali emas Indonesia melalui organisasi filantropinya ini. Perusahaan yang dimilikinya ini juga telah mengalokasikan 200 juta dolar AA untuk mengembangkan bahan baku nabati dan solusi manufaktur bersih untuk membuat tekstil.
Kasus Asian Agri
Kasus ini bermula saat Vincentius Amin Sutanto yang berusaha mencuri uang perusahaan Asian Agri Group, namun gagal. Vincent tidak tinggal diam, dia membocorkan penyimpangan pajak perusahaan yang notabene dia juga terlibat dalam penyimpangan tersebut, kasus ini menjadi heboh setelah berbagai media massa membahasnya.
Ditjen Pajak kemudian melakukan penyelidikan dan penyidikan atas kasus terkait. Penyidik menemukan pelanggaran administrasi sekaligus pelanggaran pidana yang dilakukan Suwir Laut dan lainnya.
Selanjutnya kasus ini diproses hukum hingga akhirnya MA memutuskan Suwir Laut bersalah dan 14 perusahaan yang tergabung dalam Asian Agri Group (AAG) turut dihukum dengan membayar pajak terhutang kurang lebih Rp 1,2 triliun dan hukuman denda dua kali pajak terhutang, yaitu sebesar Rp 2,5 triliun.
Redaktur : Ryan Virgiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
