REQNews.com

5 Fakta Sosok Mayjen Soetjipto, Kapolri yang Berantas Perwira Komunis

The Other Side

Sunday, 28 February 2021 - 20:32

Kapolri ke-3, Mayor Jenderal Polisi (Purn.) Soetjipto Danoekoesoemo (Foto: Istimewa)Kapolri ke-3, Mayor Jenderal Polisi (Purn.) Soetjipto Danoekoesoemo (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Mayor Jenderal Polisi (Purn.) Soetjipto Danoekoesoemo, merupakan Kapolri ke-3 kelahiran Tulungagung, Jawa Timur, 28 Februari 1922.

Sejumlah jabatan pernah ia duduki, yaitu sebagai Komandan Batalyon Polisi lstimewa Surabaya tahun 1945. Setelahnya, kemudian ia mengikuti pendidikan Hersholing Mobrig di Sukabumi 1950.

Soetjipto juga pernah menjabat Wakil Koordinator dan lnspektur Mobil Brigade Polisi Jawa Timur 1951. Tak hanya itu, ia juga pernah dikirim ke ltalia untuk memperdalam ilmu kepolisian.

Untuk itu, ada sejumlah fakta menarik yang ada pada Jenderal polisi itu. Kali ini, REQnews.com sudah merangkum 5 fakta menarik dari Mayjen Soetjipto.

1. Dari AKBP Jadi Kapolri

Pada 30 Desember 1963, Ir Soekarno mengangkat Soetjipto Danoekoesoemo sebagai Kapolri, untuk menggantikan Komjen Soekarno Djojonegoro kala itu. 

Soetjipto yang saat itu pangkatnya masih AKBP (setara Letkol) ia mendapatkan keistimewaan dari Ir Soekarno. Yaitu Ia langsung dinaikkan pangkatnya menjadi Inspektur Jenderal Polisi (setara dengan Mayor Jenderal), yang artinya ia naik tiga pangkat.

2. Kapolri Pertama Beragama Kristen

Saat itu pada perayaan Natal tahun 1963, ia masih menjadi seorang muslim. Sementara istri Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) itu, Elly Maria beragama Kristen.

Pada 1 Januari 1981 yaitu di masa tuanya, Soetjipto pindah agama dari Islam menjadi Kristen Protestan, dan dibaptis pada 11 Mei 1981. Karena itu, ia pun menjadi Kapolri pertama yang beragama Kristen.

3. Sikat Perwira Komunis

Saat menjabat sebagai Kapolri, Soetjipto pernah mengadakan pembersihan terhadap para perwira tinggi polisi yang pro komunis. Meski, Presiden Sukarno tidak menyukai langkah tersebut.

Soetjipto bukan perwira politis, ia hanya perwira yang mencoba lurus dan tidak mau terombang-ambing oleh politik seperti pesan Sukarno kepada tentara pada tahun-tahun lampau.

4. Penggagas Seskoak

Pada tahun 1962, Soetjipto dipromosikan menjabat sebagai Komandan Mobrig Polisi Pusat. Kemudian, pada 19 Maret 1965 ia menjadi penggagas berdirinya sekolah kepolisian.

Yaitu Sekolah Staf dan Komando Angkatan Kepolisian (Seskoak) di Lembang, Bandung. Selain itu, pada masanya juga terbit pemberlakuan KUHP Tentara dan KUDT bagi anggota Polri.

5. Ditunjuk Jadi Duta Besar

Saat itu, Soetjipto diundang Presiden Sukarno ke Istana Bogor untuk makan bersama. Ia kemudian mengatakan kepada presiden Soekarno bahwa tak mengerti tentang grand strategi (arah strategi) tentang Naskom.

Karena tak sejalan dengan Soekarno, kemudian Soetjipto diberitahu bahwa ia akan diganti sebagai Kapolri dan diberi jabatan baru sebagai Duta Besar RI untuk Bulgaria. Untuk itu, ia tidak genap dua tahun menjabat sebagai Menpangak atau Kapolri.

Redaktur : Hastina

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.