REQNews.com

Mengapa Daerah di Barat Jakarta Ini Disebut Jatipulo, bukan Pulojati? Begini Ceritanya

The Other Side

Thursday, 10 June 2021 - 07:32

Dokumen istimewaDokumen istimewa

JAKARTA, REQnews - Tidak sulit mencari arti kata Jatipulo. Jati adalah salah satu jenis pohon kayu paling populer di Indonesia.

Pulo, adalah istilah istilah masyarakat Betawi (pinggiran) untuk menyebut sebidang tanah di tepi jalan yang membelah persawahan, atau perkebunan. Pulo biasanya digunakan untuk menampung hasil panen sebelum diangkat ke penyimpanan, atau dikirim ke pasar.

Kata pulo banyak digunakan untuk nama tempat, sebut saja Pulo Gadung, Pulo Gebang, Pulo Kambing, dan lainnya. Pulo Gadung mengacu pada sebidang tanah di antara jalan utama dan perkebunan yang didominasi tanaman gadung (Dioscorea hispida).

Pulo Gebang merujuk pada sebidang tanah yang ditanami gebang, pohon palma besar jenis Arecaceae. Sedangkan Pulo Kambing merujuk pada aktivitas peternakan kambing skala besar di tanah itu.

Jatipulo dipastikan mengacu pada sebidang tanah di tepi jalan di tengah perkebunan, atau persawahan, yang dipenuhi pohon jati. Pertanyaannya, mengapa Jatipulo, bukan Pulojati? Pertanyaan lainnya, di manakah sebidang tanah yang disebut pulo – dan dipenuhi pohon jati – di wilayah yang saat ini bernama Jatipulo?

Tidak ada nama Jatipulo dalam peta terakhir Batavia. Jadi, sebagai wilayah administratif, Jatipulo adalah nama baru. Straatnamen in Batavia Vroeger en Jakarta nu juga tidak mencantumkan nama Jatipulo sebagai nama gang atau permukiman. Jadi, betapa sulit menentukan di mana pulo yang ditumbuhi pohon jati itu.

Sejenak melihat peta tang terdapat dalam Verslag van den Toestand der Gemeente Batavia 1912, wilayah yang bernama Jatipulo adalah bagian dari Tanjung Tepekong, atau Slipi Noord (utara) dan Kotabamboe. Saat itu, Jl Tomang Raya yang kita kenal saat ini belum ada. Yang ada adalah jalan setapak, tanpa nama, dan tidak tertera dalam peta.

Sebagai bagian Tanjung Tepekong, Jatipulo juga tidak tertera dalam Bevolkingstatistiek van Java 1867, yang menyebabkan tidak ada data populasi wilayah itu. Padahal, seperti semua tanah Kongkoan Batavia yang digunakan untuk pemakaman, Tanjung Tepekong dan Jatipulo dihuni banyak petani penggarap berbagai etnis.

Verslag van den Toestand der Gemeente Batavia 1912 mencatat Jatipulo, sebagai bagian Tanjung Tepekong, dihuni 660 jiwa, yang seluruhnya mengandalkan hidup dari budi daya rumput. Lima tahun kemudian, seperti tertera dalam Verslag van den Toestand der Gemeente Batavia 1917, tanah Kongkoan Batavia ini dihuni 620 jiwa. Mereka tidak lagi mengandalkan budi daya rumput, tapi memproduksi pada. Sebagian tanah Jatipulo dan Tanjung Tepekong disewa ke penggarap.

Berbeda dengan wilayah lain di sekelilingnya, Jatipulo relatif tidak populer. Jatipulo, seperti Paal Merah, tidak pernah menjadi sebuah kampong. Tanjung Tepekong, karena statusnya sebagai tanah pemakaman Kongkoan Batavia, juga tidak pernah menjadi kampung. Berbeda dengan Landgoed Djepang dan Slipi Zuid yang menjadi wijk dan permukiman.

Meski demikian, penduduk Tanjung Tepekong yang mendiami Jatipulo mengidentifikasi diri dengan kampungnya. Tidak ada catatan mengenai asal-usul penduduk Jatipulo. Cerita tutur masyarakat sekitar, Grogol dan Tomang, menyebutkan penduduk Jatipulo terdiri dari berbagai etnis; Jawa, Sunda, pendatang dari kota-kota di Pulau Sumatera, dan Tionghoa.

Seperti di hampir di semua kampung yang terbangun sejak erea VOC dan Hindia-Belanda, penduduk Jatipulo pada akhrinya mengidentifikasi diri sebagai orang Betawi. Mereka, perlahan dalam dalam rentang waktu yang panjang, mengadopsi budaya Betawi dengan segala pernak-perniknya.

Jatipulo adalah melting pot skala kecil, tempat berbagai etnis melebur dan menjadi entitas baru. Saat proses itu berlangsung, Jatipulo terus berubah. Jatipulo saat ini adalah sebuah keurahan di Kecamatan Palmerah, dengan masyarakat pendatang yang relatif baru. Penduduk aslinya terdesak, dan melanjutkan hidup di pinggiran Jakarta.

 

Redaktur :

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.