Selain KM Yunice dan KRI Nanggala, Ini Sederet Kapal yang Tenggelam di Laut Bali
JAKARTA, REQnews - Laut di Bali benar-benar ganas. Sepanjang 2021 ini, sudah ada dua kapal yang tenggelam dan menyisakan banyak korban.
Terbaru, KM Yunice tenggelam di Selat Bali, tepatnya di Pelabuhan Gilimanuk pada Selasa 29 Juni 2021 malam. Penyebabnya diduga karena lambung kapal bocor dan terjadi kerusakan mesin.
Sebelumnya, pada Rabu 21 April 2021 lalu, Indonesia berduka setelah kapal selam KRI Nanggala-402 hilang kontak, dan dipastikan tenggelam di laut Bali.
Kapal tersebut mengangkut 53 awak, yang semuanya dinyatakan hilang. Pengangkutan kapal sudah dihentikan sejak 2 Juni 2021 lalu.
Namun, tak hanya KM Yunice dan KRI Nanggala-402 saja yang pernah tenggelam di laut ganas tersebut, sederet kapal ini juga pernah karam di Laut Bali. Berikut selengkapnya.
1. Kapal Selam USS Bullhead (SS-332) Amerika Serikat
Kapal selam perang milik militer Amerika Serikat (AS) ini tenggelam di lautan Bali pada 1945 lalu. Bukan karena kecelakaan, melainkan akibat perang yang berkecamuk pada masa itu.
USS Bullhead tenggelam di lepas pantai utara Bali, tepat di kawasan tenggelamnya KRI Nanggala.
Monster laut ini bertolak dari pangkalan kapal selam Fremantle di Australia Barat pada 31 Juli 1945, dan melewati Selat Lombok pada 6 Agustus 1945 untuk melakukan patroli bersama kapal selam lainnya.
Namun, setelah itu pangkalan militer AS tak lagi menerima laporan dari USS Bullhead. Dua kapal selam lainnya yang ikut berpatroli juga kehilangan kontak dengan USS Bullhead.
Pada 15 Agustus 1945, militer AS memastikan bahwa kapal USS Bullhead hilang kontak dan tenggelam di laut Bali, akibat serangan pasukan Jepang.
2. Kapal Feri Rafelia 2
Pada 4 Maret 2016, kapal feri Rafelia 2 tenggelam di Selat Bali saat akan menuju Pelabuhan Ketapang, Jawa Timur sekitar pukul 12.50 WIB.
Puluhan orang dievakuasi dan selamat. Penyebab tenggelamnya dikarenakan kebocoran, lalu membuat kapal mengalami kemiringan.
Kapal feri Rafelia 2 mengangkut dua unit truk besar, satu unit mobil pick up, dan empat unit truk tronton, 18 unit truk sedang, serta empat kendaraan kecil.
Komite Nasional Keselamatan Tansporasi (KNKT) menyebut, kapal kelebihan muatan sehingga mengalami kecelakaan fatal.
Redaktur : Ryan Virgiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.