REQNews.com

Dokumen Rahasia Bocor! Gak Nyangka, Penelitian Virus Corona di Lab Wuhan Ternyata Dibiayai Amerika

The Other Side

Minggu, 12 September 2021 - 07:00

Sebuah dokumen rahasia yang bocor mengungkap fakta mengejutkan soal penularan awal virus Corona. (Foto: Ilustrasi)Sebuah dokumen rahasia yang bocor mengungkap fakta mengejutkan soal penularan awal virus Corona. (Foto: Ilustrasi)

CHINA, REQnews - Publik dunia dibuat tercengang usai beredar kabar yang menyebut Amerika Serikat diduga membiayai penelitian virus Corona di Wuhan Institute of Virology, China.

Kemungkinan itu pun semakin memperkuat kecurigaan banyak pihak bahwa virus Corona pertama kali muncul di lab Wuhan yang mengalami kebocoran, bukan menular dari hewan ke manusia.

Media AS, The Intercept mendapat sebuah dokumen rahasia berisi 900 halaman lebih. Dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa penelitian di lab Wuhan itu disokong dana dari lembaga nirlaba EcoHealth Alliance, yakni organisasi kesehatan AS yang menggunakan uang dari pemerintah sipil untuk meneliti virus Corona dari kelelawar di lab China.

"Ini adalah peta jalan menuju riset berisiko tinggi yang bisa saja telah membawa kita ke pandemi yang sedang terjadi sekarang," kata Gary Ruskin, direktur eksekutif US Right To Know, kelompok peneliti asal-usul Covid19, dikutip dari The Intercept, dikutip Minggu, 12 September 2021.

EcoHealth diduga mendapat dana hibah sebanyak 3,1 juta dolar AS atau setara Rp44 miliar lebih. Sebanyak 599 ribu dolar AS atau setara Rp8,5 miliar diberikan ke Institute Virologi Wuhan, China.

Dalam dokumen tersebut tercantum keinginan Presiden EcoHealth Alliance, Peter Daszak untuk melakukan skrining terhadap ribuan kelelawar guna mendapatkan virus Corona baru. Skrining juga dilakukan ke orang yang bekerja dan punya kontak erat dengan hewan.

Tak hanya itu, dokumen rahasia tersebut juga berisi detail penting soal penelitian di Wuhan, termasuk percobaan yang melibatkan tikus yang dirancang agar punya gen, sistem imun, jaringan atau bagian lainnya dari tubuh manusia. Tapi ironisnya, proposal itu mengakui jika penelitian tersebut memang berbahaya.

"Pekerjaan lapangan melibatkan risiko tertinggi terpapar SARS atau CoV lainnya, saat bekerja di gua dengan kepadatan kelelawar yang tinggi di atas kepala dan potensi debu tinja untuk terhirup," demikian isi dokumen tersebut.

Ahli biologi molekuler di Rutgers University, AS menyebut di dokumen itu juga dijabarkan soal informasi penelitian yang dilakukan di Wuhan, salah satunya soal penelitian untuk membuat virus Corona baru dengan memakai 2 jenis virus yakni SARS & MERS.

"Virus yang mereka buat diuji kemampuannya untuk menginfeksi tikus yang direkayasa untuk menampilkan reseptor manusia dalam sel-selnya," tandasnya.

 

 

 

Redaktur : Puri

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.