5 Karya Arsitek Friedrich Silaban, Ada Masjid Istiqlal Hingga Gelora Bung Karno
JAKARTA, REQnews - Friedrich Silaban merupakan seorang Arsitek ternama di Indonesia yang memiliki karya luar biasa. Salah satu karyanya yang mebanggakan adalah Masjid Istiqlal, Jakarta.
Bangunan masjid terbesar di Asia Tenggara itu sekaligus menjadi monumen toleransi di Indonesia karena dibangun oleh arsitek yang beragama Kristen.
Selain Masjid Istiqlal, masih banyak lagi karya Fredrich yang hingga kini menjadi bangunan bersejarah. Bahkan ia menjadi seorang arsitek yang karyanya telah diakui dunia.
Dikutip dari buku 'Mengenal Tokoh Arsitek Indonesia,' berikut empat karya Fredrich di Indonesia yang membanggakan:
1. Markas TNI Angkatan Udara
Kawasan Simpang Pancoran pada dekade 1960-an merupakan wilayah terpadu yang menampung aktivitas Angkatan Udara Republik Indonesia (TNI AU).
Di sana pernah dibangun Markas Besar AURI yang dirancang Friedrich Silaban pada tahun 1962-1964, Monumen Dirgantara yang dibuat Edhi Sunarso pada tahun 1964-1970, dan kompleks perumahan anggota AURI.
Letaknya hanya berkisar 6,7 kilometer dari Landasan Udara Halim Perdanakusuma, dengan dihubungkan oleh Jalan Jakarta Bypass (kini Gatot Subroto) yang juga diresmikan di awal 1960an.
2. Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK)
GBK dibangun dua tahun menjelang Asian Games IV 1962. Jakarta. Soekarno menganggap Asian Games sebagai usaha perjuangan 'nation building,' untuk meningkatkan taraf hidup rakyat Indonesia sebagai suatu bangsa yang bahagia dan terhormat di dunia.
Ia memiliki punya mimpi untuk membangun stadion sepakbola terbesar di dunia. Tapi bukan sembarang stadion, salah satunya stadion tersebut memiliki atap temu gelang (berbentuk melingkar mengelilingi stadion dan bertemu di kedua ujungnya).
Pekerjaan arsitektur semacam itu dianggap sesuatu yang nyaris mustahil di periode tersebut. Namun, arsitek kelahiran Sumatera Utara bernama Friedrich Silaban akhirnya bisa mewujudkan mimpi Soekarno.
3. Gedung Bentol
Gedung ini meupakan bagian dari Istana Kepresidenan Cianjur yang terletak di Jalur Jalan Raya Puncak, Jawa Barat. Gedung ini berada tepat di belakang gedung induk dan berdiri di dataran yang lebih tinggi dari bangunan lainnya.
Gedung yang sering disebut sebagai tempat Soekarno mencari inspirasi ini dinamakan Gedung Bentol karena seluruh dindingnya ditempel batu alam yang membuat kesan bentol-bentol.
4. Masjid Istiqlal
Fredrich Silaban memenangkan sayembara pembuatan gambar maket masjid dengan motto ‘Ketuhanan’ yang kemudian bertugas membuat desain Istiqlal secara keseluruhan. Istiqlal ini juga merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara pada 1970-an.
Kesederhanaan ide Silaban rupanya berbuah kemegahan. Masjid yang dirancang berdiri berdampingan dengan Gereja Katerdral seperti yang tampak hingga saat ini. Berdiri di atas lahan seluas 9,5 hektare.
Kubahnya bergaris tengah 45 meter, ditopang 12 pilar raksasa serta 5138 tiang pancang. Dindingnya berlapis emas. Air mancur besar melambangkan “Tauhid” yang berada di barat daya masjid. Dilengkapi juga dengan menara setinggi 6666 meter sesuai dengan jumlah ayat Al-quran.
5. Kantor Pusat Bank Indonesia
Presiden Soekarno pada saat itu mempercayai Silaban untuk merancang gedung Bank Indonesia yang baru. Seorang arsitek yang dijuluki oleh Soekarno sebagai arsitek by the grace of God karena sering kali menemukan bangunan yang miring tanpa menggunakan alat bantu modern. Oleh Soekarno Silaban juga dipercaya merancang bangunan Masjid Istiqlal, meskipun sang arsitek bukan seorang muslim.
Terkait dengan perancangan gedung Bank Indonesia yang terletak di dekat air mancur jalan Thamrin, Silaban mengisahkan bahwa Presiden Soekarno, yang juga seorang insinyur tehnik, menghendaki agar bangunan itu tidak menggunakan atap, cukup ditutup dengan menggunakan beton yang datar saja.
Menanggapi usulan presiden itu, Silaban menolak dengan keras, bahkan sempat ngambek ketika presiden memaksakan usulannya itu agar diterima oleh Silaban. Akhirnya Silaban mengatakan kepada presiden, kalau presiden tetap memaksakan idenya terkait dengan atap bangunan itu, maka sebaiknya Silaban mengundurkan diri dari pekerjaan perencanaan gedung bank sentral itu.
Akhirnya Presiden Soekarno mengalah kepada Silaban dan membiarkannya untuk berkreasi secara bebas dalam merancang gedung bank sentral yang baru.
Redaktur : Hastina
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.